Jumat, 22 November 2013

Perjalanan ajaib bersama Jojo

J-O-J-O, itu nama anjing betina peliharaanku. Anjing yang pintar. Saat dipanggil, dia malah lari. Saat mau diberi makan, nggak dipanggil pun dia datang menghampiri. Pintar sekali kamu, Jo.

Sudah hampir setahun sejak pertama kali Jojo muncul. Waktu itu, Jojo datang sendiri ke rumah. Nggak perlu dijemput atau diantar. Mungkin sebaiknya aku mengganti namanya menjadi Jojolangkung.

Bersama Jojo, banyak sekali cerita yang aku lewati selama setahun ini. Pertama kali datang, dia cuma seekor anjing kampung berwarna hitam yang sangat jelek. Setelah aku rawat dengan baik selama setahun, sekarang Jojo menjadi anjing kampung berwarna hitam yang sangat jelek. Nggak ada perubahan.

Walaupun Jojo jelek, tapi di dunia anjing ternyata dia laku keras. Saat musim kawin datang, banyak sekali jantan yang mengantri di depan rumahku untuk bercinta dengan Jojo. Sebagai majikan yang baik, supaya anak-anaknya Jojo berkualitas bagus, aku sangat selektif memilih jantan mana yang boleh nongkrong di depan rumah. Jantan-jantan dari ras kintamani dan agak bule, aku diemin. Sedangkan jantan yang jelek aku usir pake sapu.

Setelah sebulan yang penuh cinta, tiba-tiba para jantan itu berhenti nongkrong di depan rumahku. Sepertinya musim kawin sudah lewat, berganti dengan musim beranak. Setelah itu mungkin akan tiba waktunya musim kawin sambil beranak.

Entahlah...

Yang jelas, untuk kesehatan calon anak-anaknya Jojo, aku sering ngajak Jojo ke pantai. Selain untuk berenang, Jojo juga aku ajak melihat dunia. Dia harus tau bahwa di luar sana masih banyak anjing yang lebih jelek dari dia. Sampai di pantai, ternyata Jojo tetap yang paling jelek.