Postingan

Menampilkan postingan dari 2015

Bayu dan Ayas

Seharusnya dia sudah datang , itu yang dipikirkan Ayas tiga puluh menit terakhir. Cewek itu sedang duduk di sebuah kafe. Sendirian. Dan telah lewat setengah jam dari waktu yang mereka janjikan. Namun, Bayu—pacarnya—tidak kunjung muncul di kafe itu. Tatapan Ayas nyaris tak pernah teralih dari pintu masuk kafe, memandangi orang-orang yang masuk ke dalam. Berharap Bayu akan muncul di sana, lalu membawanya pergi. Mereka sudah berjanji akan minggat dari rumah, jika orang tua Bayu tetap tidak merestui hubungan mereka. Waktu terus berlalu, namun tidak ada tanda-tanda Bayu akan datang. Setiap kali ada sosok cowok tinggi dengan rambut pendek rapi, Ayas akan mengira bahwa itu Bayu. Dan dia akan kecewa, karena ternyata bukan. Ayas pun mulai gelisah. Dia menggigit bibir bawahnya. Kenapa Bayu tidak datang-datang? Apa Bayu berubah pikiran? Tapi kenapa tidak ada kabar? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar-putar di kepalanya. Ayas sudah berusaha menghubungi Bayu, namun teleponnya tidak diangk

Surat Untuk Cinta Pertama

Dear Cinta Pertamaku, Sebenarnya, dulu, dengan polosnya aku sempat berharap kamu akan jadi yang terakhir. Namun, sekarang kita sudah sama-sama tahu bahwa itu tidak akan pernah terjadi. Karena... Ah, sudahlah. Namun, tetap saja, aku merasa beruntung sempat jadian denganmu. Masa-masa ketika masih bersamamu, walaupun singkat—berapa lama? Sepuluh bulan? Tapi rasanya ramai, seperti makan rujak. Kadang manis, kecut, dan pedas. Sekarang, setelah lama kita putus, izinkan aku untuk berkeluh kesah tentangmu. Nggak, aku nggak marah. Aku hanya ingin mengenang masa-masa "ngerujak" itu. Hmmm. Pertama kali aku melihatmu, di mataku, kamu adalah adik kelas yang sangat manis. Kulitmu sawo matang, dengan rambut sebahu yang terlihat halus, dan suara serak-serak sembermu yang menggoda. Entah bagaimana kita bisa saling kenal, aku lupa. Tapi yang jelas, buatku, kamu menarik dan aku menyukaimu. Walaupun mungkin tidak demikian denganmu, karena waktu itu kamu sempat curhat padaku bahwa kamu

The Broken Journey (Part 5)

Gambar
Lanjutan cerita dari Sekar ( @sekartajirolu ) di blog sekartajiblog.blogspot.com . Sebaiknya baca dulu cerita sebelumnya di bawah ini: Part 1:   Kesialan Ini Tanggung Jawabku .  siluetsorehari.blogspot.com Part 2: Maafkan aku, Dik .  millarossa.blogspot.com Part 3: Kami Ingin Pulang .  sweetwinterclo.blogspot.com Part 4: Aku Takut .  sekartajiblog.blogspot.com *** Part 5: Mencari Sekar Macan terkutuk itu sudah hilang. Masalahnya, Sekar ikut hilang. Kami berempat—aku, Hanif, Mega, dan Mila—mencoba mencari Sekar di sekitar tenda. Oke, mungkin lebih tepatnya bertiga, karena Mila tidak sanggup berdiri, kakinya bengkak dan membiru. Dia menangis sambil memanggil-manggil nama adiknya. Namun, anggota termuda di kelompok kami itu tetap tidak ditemukan. Sekar menghilang seolah ditelan bumi. Atau macan. Huft . Situasi sulit ini membuat kesabaranku habis. Aku mendatangi Hanif. Kali ini, ia tidak bisa menghalangi aku lagi. "Kak, aku akan pergi mencari Sekar." &qu

Mencari Rana yang minggat dari rumah

Gambar
Pada hari minggu pagi, Widi sedang menikmati nyamannya kasur dan selimut yang hangat, saat mendengar kabar bahwa sahabatnya—Rana, kabur dari rumah, dan kemungkinan besar akan bunuh diri. Kabar itu langsung didapatnya dari orang tua Rana, yang menelepon Widi pagi-pagi sekali, tepat ketika dia sedang berciuman dengan Justin Bieber di dalam mimpinya. Hal itu lumayan membuatnya kesal, namun hanya sebentar, karena Widi langsung mengkhawatirkan sahabatnya itu. Masalahnya, bukan kali ini saja Rana pernah mencoba untuk bunuh diri. Dulu, dia pernah kejang-kejang karena menenggak obat sakit kepala dan minuman beralkohol secara bersamaan, hanya karena anggota boyband kesayangannya, si Zayn Malik keluar dari One Direction. Waktu itu, Widi tidak habis pikir, bagaimana mungkin Rana mau bunuh diri hanya karena seorang cowok brewokan yang memutuskan keluar dari sebuah boyband. Nggak penting banget , pikirnya. Widi bahkan tidak bisa membedakan tampang Zayn Malik dengan Ridho Rhoma, kecuali mereka m

Serangan Ulat Bulu

Gambar
Beberapa minggu ini, tiba-tiba badanku sering gatel-gatel. Setelah aku selidiki, ternyata di atas pepohonan di rumahku, banyak ulat bulu. Begitu mengetahui sebabnya, aku pun mulai mencari cara untuk memberantas si makhluk terkutuk itu. Begini caranya... 1) Bikin Ramuan Beracun Ramuan ini bukan zat kimia atau pestisida atau semacamnya. Tapi ramuan yang 60 % bahannya alami, yaitu: seember air, bawang putih (diulek sampe halus), cabe (bukan cabe-cabean ya, dan diulek juga sampe halus), dan air sabun. Rendam semua bahan itu selama satu hari. Kalo udah jadi, hasilnya akan sangat mematikan. Jangankan kena tangan (bisa bikin panas, kayak pake balsem), baunya aja udah bikin nggak tahan dan mual. Semacam campuran aroma asem ketek kambing yang nggak mandi dua tahun, bau got, air cuci piring dan sedikit aroma tai. Nah, kalo udah seperti itu, masukan ramuan beracun tersebut ke dalam semprotan sprei (yang buat mandiin burung, bukan burung yang itu tapi burung beneran). Dan setelah aku sempro

Nina Van Goblok

Di sebuah SMA negeri di Denpasar, hiduplah seorang murid cewek bernama Nina. Sepanjang dua tahun terakhir masa-masa SMA-nya, Nina sudah dua kali nyaris nggak naik kelas. Soalnya setiap hari, Nina jarang belajar, kerjaannya cuma main. Nilai-nilainya pun hampir selalu pas-pasan. Dan kalo ada siaran bola, dia bakal begadang sampai pagi. Apa lagi, kalo yang main MU, Nina pasti nonton. Karena dia suka banget sama Robin Van Persie. Dia bahkan mengubah namanya sendiri jadi Nina Van Persie. Hanya saja, karena nilai-nilai Nina selalu hancur, dia malah dipanggil Nina Van Goblok. Saat akhirnya Nina kelas 3 SMA, dia memutuskan untuk belajar lebih rajin. Terutama pelajaran hitung-hitungan. Soalnya ujian nasional sudah dekat. Setelah belajar mati-matian, sejauh ini nilai tertinggi pelajaran hitung-hitungan Nina adalah 0,5. Itu juga karena ongkos nulis. Nina sudah mencoba belajar sendiri, tapi gagal. Dia sudah nyoba minta diajarin temannya, si Doni, dan temannya itu jadi gila. Dulu, Nina juga

Ketika si mungil menghilang

Dua tahun sebelum bertemu dengan pacarnya—Marisa, dan akhirnya menikah, Juna sempat naksir setengah mati pada seorang cewek mungil yang dia temui di toko buku dekat rumahnya. Entah apa yang membuat cewek mungil itu begitu menarik bagi Juna, namun setiap kali melihat cewek itu, matanya seolah nggak kuasa memandang objek lain selain si mungil itu. Semuanya dimulai ketika Juna masih seorang jomblo ngenes di awal-awal semester satu kuliahnya, dan dia memilih melewati hampir setiap malam minggu di toko buku, melihat buku-buku baru yang bisa dibeli untuk dibaca pada waktu libur kuliah. Juna memang lebih memilih membaca daripada nongkrong dengan teman-temannya di rental Playstation atau di pinggir jalan sambil goda-godain cewek lewat. Kebiasaan itu terus berlanjut selama beberapa bulan. Dan semuanya berjalan baik-baik saja—bahkan cendrung datar—sampai suatu malam minggu, Juna melihat si cewek mungil itu, dan dibuat jatuh cinta dengan begitu dahsyat pada pandangan pertama. Juna nggak aka