Selasa, 27 Oktober 2015

Bayu dan Ayas

Seharusnya dia sudah datang, itu yang dipikirkan Ayas tiga puluh menit terakhir. Cewek itu sedang duduk di sebuah kafe. Sendirian. Dan telah lewat setengah jam dari waktu yang mereka janjikan. Namun, Bayu—pacarnya—tidak kunjung muncul di kafe itu.

Tatapan Ayas nyaris tak pernah teralih dari pintu masuk kafe, memandangi orang-orang yang masuk ke dalam. Berharap Bayu akan muncul di sana, lalu membawanya pergi. Mereka sudah berjanji akan minggat dari rumah, jika orang tua Bayu tetap tidak merestui hubungan mereka.

Waktu terus berlalu, namun tidak ada tanda-tanda Bayu akan datang. Setiap kali ada sosok cowok tinggi dengan rambut pendek rapi, Ayas akan mengira bahwa itu Bayu. Dan dia akan kecewa, karena ternyata bukan. Ayas pun mulai gelisah. Dia menggigit bibir bawahnya. Kenapa Bayu tidak datang-datang? Apa Bayu berubah pikiran? Tapi kenapa tidak ada kabar? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar-putar di kepalanya. Ayas sudah berusaha menghubungi Bayu, namun teleponnya tidak diangkat dan SMS-nya tidak dibalas. Setelah itu, berkali-kali Ayas menghela napas, namun perasaannya tidak kunjung membaik.

Minggu, 21 Juni 2015

Surat Untuk Cinta Pertama

Dear Cinta Pertamaku,

Sebenarnya, dulu, dengan polosnya aku sempat berharap kamu akan jadi yang terakhir. Namun, sekarang kita sudah sama-sama tahu bahwa itu tidak akan pernah terjadi. Karena... Ah, sudahlah.

Namun, tetap saja, aku merasa beruntung sempat jadian denganmu. Masa-masa ketika masih bersamamu, walaupun singkat—berapa lama? Sepuluh bulan? Tapi rasanya ramai, seperti makan rujak. Kadang manis, kecut, dan pedas.

Sekarang, setelah lama kita putus, izinkan aku untuk berkeluh kesah tentangmu. Nggak, aku nggak marah. Aku hanya ingin mengenang masa-masa "ngerujak" itu.

Hmmm.

Pertama kali aku melihatmu, di mataku, kamu adalah adik kelas yang sangat manis. Kulitmu sawo matang, dengan rambut sebahu yang terlihat halus, dan suara serak-serak sembermu yang menggoda. Entah bagaimana kita bisa saling kenal, aku lupa. Tapi yang jelas, buatku, kamu menarik dan aku menyukaimu. Walaupun mungkin tidak demikian denganmu, karena waktu itu kamu sempat curhat padaku bahwa kamu sedang naksir seseorang, yang kebetulan bukan aku.

Dan akhirnya kamu jadian dengan seseorang itu. Tapi tidak lama. Beberapa bulan kemudian, kamu curhat lagi padaku bahwa pacarmu menyebalkan, lalu kamu putusin.

Sejak itu, hampir setiap hari, kamu terus-terusan mengirim SMS untukku. Mengucapkan selamat pagi atau mengingatkan untuk sarapan atau semacamnya. Tau nggak? Belum pernah aku diperhatikan seperti itu. Aku jadi bertanya-tanya. Mungkin seperti ini rasanya punya pacar? Sungguh, perasaan yang aneh. Aku jadi sering senyum-senyum sendiri seperti orang stres.

Lalu empat bulan kemudian. Iya, EMPAT bulan. Setelah beberapa kali nonton bareng di bioskop dan keluar buat makan berdua, dan entah berapa SMS yang saling kita kirim, akhirnya aku memberanikan diri untuk "nembak" kamu. Secara ajaib, walaupun aku mengucapkannya dengan terbata-bata mirip orang gagap lagi kumur-kumur, kamu tetap menerimaku. Dan di momen itu, seperti ada kembang api yang meletup-letup di hatiku, saat melihatmu mengangguk sambil tersenyum malu-malu.

Momen itu juga yang menjadi penanda tak terlupakan masa-masa indah dimulai.

Di minggu pertama, kamu tetap perhatian. Mengirim SMS setiap pagi dan mengingatkan agar tidak lupa makan, seolah kalau kamu nggak ngingetin, aku bakal mati kelaparan. Tapi aku bahagia. Perhatian kecil seperti itu membuatku merasa spesial.

Dan tepat sebulan setelah kita jadian, kamu mengirim sebuah SMS. "Selamat sebulan jadian, Sayang. Semoga kita langgeng ya. Aku sayang kamu." Lalu aku membalas. "Aku juga sayang kamu. Selamat sebulan jadian juga, Sayang." Begitu terus di bulan-bulan selanjutnya. Setiap tanggal 17.

Huft.

Aku pikir ritual itu akan bertahan sampai bulan keseribu, tapi ternyata tidak. Di bulan kesembilan, kamu sudah mulai menjauh, jarang mengirim SMS selamat pagi, dan tidak pernah mengingatkan sarapan lagi. Dan belum sempat mengucapkan "selamat sepuluh bulanan, Sayang", tiba-tiba kita sudah putus. Lalu kamu jadian dengan cowok lain.

Waktu itu, aku berpikir bahwa kamu JAHAT. Iya, kamu sangat jahat karena tega meninggalkan aku dalam keadaan masih sayang setengah mati sama kamu. Namun, malam itu, enam bulan setelah kita putus. Aku merenung sambil menangis di bawah kucuran air shower, dan mencapai satu kesadaran bahwa tidak ada yang bisa aku lakukan. Semua ini sia-sia, bagaimanapun, aku nggak bakal bisa bikin kamu sayang lagi sama aku. Aku nggak bakal bisa memaksa perasaan apapun yang dulu pernah kamu rasakan padaku, agar muncul lagi di hatimu. Jadi, di bawah kucuran air yang dingin itu, akhirnya aku sepenuhnya bisa merelakanmu, seolah semua sisa-sisa perasaanku padamu ikut luntur bersama air.

Sejak malam itu, aku berusaha menjalani hidup normal, berusaha merasa tidak patah hati. Sampai akhirnya aku dapat pacar baru, dan tempat yang kamu tinggalkan di hatiku kembali ada yang mengisi.

Begitulah...

Jika kamu kebetulan membaca surat ini. Semoga kamu bahagia. Ini betulan tulus. Semoga kamu bahagia.

Dan terima kasih untuk masa-masa indah yang sempat kamu berikan.


Bukan Siapa-Siapamu,

Rama.

Rabu, 27 Mei 2015

The Broken Journey (Part 5)

Lanjutan cerita dari Sekar (@sekartajirolu) di blog sekartajiblog.blogspot.com.

Sebaiknya baca dulu cerita sebelumnya di bawah ini:
Part 1: Kesialan Ini Tanggung Jawabkusiluetsorehari.blogspot.com
Part 2: Maafkan aku, Dikmillarossa.blogspot.com
Part 3: Kami Ingin Pulangsweetwinterclo.blogspot.com
Part 4: Aku Takutsekartajiblog.blogspot.com

***

Part 5: Mencari Sekar

Macan terkutuk itu sudah hilang. Masalahnya, Sekar ikut hilang.

Kami berempat—aku, Hanif, Mega, dan Mila—mencoba mencari Sekar di sekitar tenda. Oke, mungkin lebih tepatnya bertiga, karena Mila tidak sanggup berdiri, kakinya bengkak dan membiru. Dia menangis sambil memanggil-manggil nama adiknya. Namun, anggota termuda di kelompok kami itu tetap tidak ditemukan. Sekar menghilang seolah ditelan bumi. Atau macan.

Huft.

Situasi sulit ini membuat kesabaranku habis. Aku mendatangi Hanif. Kali ini, ia tidak bisa menghalangi aku lagi. "Kak, aku akan pergi mencari Sekar."

"Sendirian? Nggak!" Sahut Hanif. Masih saja keras kepala. "Bagaimana kalau terjadi apa-apa juga denganmu? Kita cari bersama-sama."

"Tapi, Mila nggak bisa jalan!" Seruku keras.

Mila mulai menangis lagi. "Adikku..." Ujarnya terisak-isak sambil berusaha bangun. "Aw, kakiku!" Pekiknya. Aku tidak tega melihat Mila. Setelah terancam kehilangan kaki, dia juga harus kehilangan adik.

Aku mengusap wajahku. "Kak, ada macan yang berkeliaran di luar sana. Dan Sekar sendirian. Kita harus segera mencarinya!"

"Macan itu sudah pergi!" Sergah Hanif. Lalu, di kejauhan terdengar suara geraman macan.

Kami berempat terdiam.

"Benar kata Rama, sebaiknya kita segera mencari Sekar," usul Mega.

Hanif menggaruk kepalanya. "Oke, kita segera mencari Sekar. Tapi kamu nggak boleh pergi sendiri, Rama. Aku ikut." Ujarnya.

"Lalu, siapa yang menjaga mereka?" Tanyaku sambil menunjuk Mega dan Mila. Hanif menghela napas. Lantas, ide itu muncul begitu saja. "Bagaimana kalau Mega ikut denganku?"

Hanif terdiam sejenak, lalu akhirnya mengangguk. "Baiklah," ujarnya. Giliran Mega yang menghela napas.

Dan begitulah. Malam berlalu cepat. Dini hari yang dingin, sementara Hanif menjaga Mila, aku dan Mega berjalan menembus hutan untuk mencari Sekar. Udara dingin membuat hidungku terasa basah. Saat menghembuskan napas, aku seperti sedang merokok. Dengan bantuan senter dan sebatang kayu, aku berjalan melewati ranting-ranting dan daun-daun kering. Tetap waspada, karena bisa saja di sana ada ular. Mega mengikutiku di belakang. Merapat padaku, dan mencengkeram bagian belakang jaketku. Hampir tidak ada jarak di antara kami. Aku bisa mencium wangi parfum stroberinya. Sejak dulu, Mega memang selalu wangi, bahkan sekarang, setelah tiga hari tidak mandi.

Sejenak, aroma stroberi itu membawaku ke masa-masa ketika kami masih pacaran. Dulu, kami pernah sangat dekat, seolah tak terpisahkan. Aku nyaman bersama Mega. Dia yang terindah. Mega jauh lebih baik dari Lia, mantan terakhirku, dan bahkan mantan-mantanku yang lain. Kami putus karena salahku. Aku terlalu cuek, menganggap bahwa Mega tidak akan pergi. Dan ketika Mega betulan pergi, aku baru menyesal.

Namun, sekarang ia ada di belakangku. Cewek yang hampir tiga tahun ini kuharapkan untuk kembali, berada sangat dekat denganku. Sekaranglah saatnya, pikirku. Sebelum aku mati kelaparan, atau dimakan macan.

Sambil terus berjalan, aku mengumpulkan keberanian. Dan saat langit sudah mulai terang, ketika kami duduk di sebuah batu untuk beristirahat, kalimat itu keluar begitu saja. "Mega, aku… aku masih sayang sama kamu."

Mega tertegun. Ia terdiam menatapku. Lantas mulai membuka mulut. "Aku..."

Hening.

"Aku mendengar sesuatu, Ram."

"Ha? Apa?"

"Helikopter!"

Terburu-buru, ia naik ke sebuah batu besar di dekat kami. Benar saja. Tak lama kemudian, sebuah helikopter melintas di atas kami. Mega tengadah dan mulai berteriak-teriak. Di sebelahnya, aku merentangkan tangan lebar-lebar, lalu menggerak-gerakkannya. "TOLONG! TOLONG! WOY!" Teriakku sekencang mungkin.

Namun, helikopter itu malah melaju pergi. Semakin lama semakin menjauh di angkasa. Habis sudah, pikirku. Apa hidup kami memang harus berakhir di sini?

***

Simak kelanjutan ceritanya di falling-eve.blogspot.com oleh Kireina Enno (@kireinaenno).

Rabu, 13 Mei 2015

Mencari Rana yang minggat dari rumah

Pada hari minggu pagi, Widi sedang menikmati nyamannya kasur dan selimut yang hangat, saat mendengar kabar bahwa sahabatnya—Rana, kabur dari rumah, dan kemungkinan besar akan bunuh diri.

Kabar itu langsung didapatnya dari orang tua Rana, yang menelepon Widi pagi-pagi sekali, tepat ketika dia sedang berciuman dengan Justin Bieber di dalam mimpinya.

Hal itu lumayan membuatnya kesal, namun hanya sebentar, karena Widi langsung mengkhawatirkan sahabatnya itu. Masalahnya, bukan kali ini saja Rana pernah mencoba untuk bunuh diri. Dulu, dia pernah kejang-kejang karena menenggak obat sakit kepala dan minuman beralkohol secara bersamaan, hanya karena anggota boyband kesayangannya, si Zayn Malik keluar dari One Direction. Waktu itu, Widi tidak habis pikir, bagaimana mungkin Rana mau bunuh diri hanya karena seorang cowok brewokan yang memutuskan keluar dari sebuah boyband. Nggak penting banget, pikirnya. Widi bahkan tidak bisa membedakan tampang Zayn Malik dengan Ridho Rhoma, kecuali mereka membuka baju. Karena salah satunya memiliki bulu dada selebat Hutan Amazon.

Bagaimana pun, itu hal paling bodoh yang pernah Widi dengar. Dia memang tidak pernah peduli dengan artis-artis luar negeri. Kecuali satu kali, ketika Justin Bieber putus dengan Selena Gomez, dia merayakannya dengan menraktir teman-teman satu kelas.

Setelah menerima telepon dari orang tua Rana, Widi duduk di kasurnya sambil merenung. Tadi, orang tua Rana mengatakan bahwa anaknya yang cengeng itu meninggalkan surat yang berisi sebuah kalimat petunjuk.

"Sebelum semua terlambat, carilah aku di tempat bertemunya daratan dan lautan."

Minggu, 29 Maret 2015

Serangan Ulat Bulu

Beberapa minggu ini, tiba-tiba badanku sering gatel-gatel. Setelah aku selidiki, ternyata di atas pepohonan di rumahku, banyak ulat bulu. Begitu mengetahui sebabnya, aku pun mulai mencari cara untuk memberantas si makhluk terkutuk itu. Begini caranya...

1) Bikin Ramuan Beracun
Ramuan ini bukan zat kimia atau pestisida atau semacamnya. Tapi ramuan yang 60 % bahannya alami, yaitu: seember air, bawang putih (diulek sampe halus), cabe (bukan cabe-cabean ya, dan diulek juga sampe halus), dan air sabun. Rendam semua bahan itu selama satu hari.

Kalo udah jadi, hasilnya akan sangat mematikan. Jangankan kena tangan (bisa bikin panas, kayak pake balsem), baunya aja udah bikin nggak tahan dan mual. Semacam campuran aroma asem ketek kambing yang nggak mandi dua tahun, bau got, air cuci piring dan sedikit aroma tai.

Nah, kalo udah seperti itu, masukan ramuan beracun tersebut ke dalam semprotan sprei (yang buat mandiin burung, bukan burung yang itu tapi burung beneran). Dan setelah aku semprotkan ramuan mematikan itu, ulat bulunya nggak apa-apa. Si ulat masih sehat dan bugar.

2) Ambil dan Buang
Setelah ramuan beracun gagal, aku menggunakan cara yang paling tradisional, yaitu: aku ambil si ulat bulu terkutuk pake kayu (jadi kayunya kayak sumpit gitu), dan buang ke got. Cara ini lumayan berhasil, tapi ulat bulu yang diambil dan dibuang, nggak sebanding dengan lahirnya ulat bulu baru. Setiap menyingkirkan satu ulat bulu, bakal lahir sepuluh penggantinya. Jadi, cara ini juga gagal.

3) Obati dengan Baby Oil
Selama beberapa minggu, aku pake dua cara di atas. Soalnya nggak tahu cara lain. Namun, kalo tiba-tiba aku terserang gatal, aku bakal memakai baby oil. Dan dijamin gatal akan langsung hilang.

Begitulah kira-kira cara menangani serangan ulat bulu yang terbukti gagal. Buat teman-teman yang tau cara lebih mujarab, mohon bagi di comment post ya. Terima kasih.

Oh ulat bulu, kau seperti mantan-mantanku. Imut-imut tapi gatel.

Senin, 16 Maret 2015

Nina Van Goblok

Di sebuah SMA negeri di Denpasar, hiduplah seorang murid cewek bernama Nina.

Sepanjang dua tahun terakhir masa-masa SMA-nya, Nina sudah dua kali nyaris nggak naik kelas. Soalnya setiap hari, Nina jarang belajar, kerjaannya cuma main. Nilai-nilainya pun hampir selalu pas-pasan.

Dan kalo ada siaran bola, dia bakal begadang sampai pagi. Apa lagi, kalo yang main MU, Nina pasti nonton. Karena dia suka banget sama Robin Van Persie. Dia bahkan mengubah namanya sendiri jadi Nina Van Persie. Hanya saja, karena nilai-nilai Nina selalu hancur, dia malah dipanggil Nina Van Goblok.

Saat akhirnya Nina kelas 3 SMA, dia memutuskan untuk belajar lebih rajin. Terutama pelajaran hitung-hitungan. Soalnya ujian nasional sudah dekat. Setelah belajar mati-matian, sejauh ini nilai tertinggi pelajaran hitung-hitungan Nina adalah 0,5. Itu juga karena ongkos nulis.

Nina sudah mencoba belajar sendiri, tapi gagal. Dia sudah nyoba minta diajarin temannya, si Doni, dan temannya itu jadi gila. Dulu, Nina juga pernah nyoba les, dengan harapan nilainya membaik. Tapi guru lesnya masuk rumah sakit jiwa.

Sabtu, 28 Februari 2015

Ketika si mungil menghilang

Dua tahun sebelum bertemu dengan pacarnya—Marisa, dan akhirnya menikah, Juna sempat naksir setengah mati pada seorang cewek mungil yang dia temui di toko buku dekat rumahnya. Entah apa yang membuat cewek mungil itu begitu menarik bagi Juna, namun setiap kali melihat cewek itu, matanya seolah nggak kuasa memandang objek lain selain si mungil itu.

Semuanya dimulai ketika Juna masih seorang jomblo ngenes di awal-awal semester satu kuliahnya, dan dia memilih melewati hampir setiap malam minggu di toko buku, melihat buku-buku baru yang bisa dibeli untuk dibaca pada waktu libur kuliah. Juna memang lebih memilih membaca daripada nongkrong dengan teman-temannya di rental Playstation atau di pinggir jalan sambil goda-godain cewek lewat.

Kebiasaan itu terus berlanjut selama beberapa bulan. Dan semuanya berjalan baik-baik saja—bahkan cendrung datar—sampai suatu malam minggu, Juna melihat si cewek mungil itu, dan dibuat jatuh cinta dengan begitu dahsyat pada pandangan pertama.

Juna nggak akan pernah melupakan saat pertama kali menemukan si mungil, wajah cewek itu tirus dengan kulit putih bercahaya, alis yang rimbun, rambut hitam dan terlihat sehalus sutra. Mungkin cewek itu setahun atau dua tahun lebih muda dari Juna, mungkin masih SMA. Entahlah. Waktu itu, Juna malah menatap langit-langit toko, memastikan bahwa keadaannya baik dan nggak ada sesuatu yang telah jatuh melaluinya. Dia curiga, si mungil itu mungkin saja bidadari yang sedang mengunjungi bumi.