Rabu, 27 Mei 2015

The Broken Journey (Part 5)

Lanjutan cerita dari Sekar (@sekartajirolu) di blog sekartajiblog.blogspot.com.

Sebaiknya baca dulu cerita sebelumnya di bawah ini:
Part 1: Kesialan Ini Tanggung Jawabkusiluetsorehari.blogspot.com
Part 2: Maafkan aku, Dikmillarossa.blogspot.com
Part 3: Kami Ingin Pulangsweetwinterclo.blogspot.com
Part 4: Aku Takutsekartajiblog.blogspot.com

***

Part 5: Mencari Sekar

Macan terkutuk itu sudah hilang. Masalahnya, Sekar ikut hilang.

Kami berempat—aku, Hanif, Mega, dan Mila—mencoba mencari Sekar di sekitar tenda. Oke, mungkin lebih tepatnya bertiga, karena Mila tidak sanggup berdiri, kakinya bengkak dan membiru. Dia menangis sambil memanggil-manggil nama adiknya. Namun, anggota termuda di kelompok kami itu tetap tidak ditemukan. Sekar menghilang seolah ditelan bumi. Atau macan.

Huft.

Situasi sulit ini membuat kesabaranku habis. Aku mendatangi Hanif. Kali ini, ia tidak bisa menghalangi aku lagi. "Kak, aku akan pergi mencari Sekar."

"Sendirian? Nggak!" Sahut Hanif. Masih saja keras kepala. "Bagaimana kalau terjadi apa-apa juga denganmu? Kita cari bersama-sama."

"Tapi, Mila nggak bisa jalan!" Seruku keras.

Mila mulai menangis lagi. "Adikku..." Ujarnya terisak-isak sambil berusaha bangun. "Aw, kakiku!" Pekiknya. Aku tidak tega melihat Mila. Setelah terancam kehilangan kaki, dia juga harus kehilangan adik.

Aku mengusap wajahku. "Kak, ada macan yang berkeliaran di luar sana. Dan Sekar sendirian. Kita harus segera mencarinya!"

"Macan itu sudah pergi!" Sergah Hanif. Lalu, di kejauhan terdengar suara geraman macan.

Kami berempat terdiam.

"Benar kata Rama, sebaiknya kita segera mencari Sekar," usul Mega.

Hanif menggaruk kepalanya. "Oke, kita segera mencari Sekar. Tapi kamu nggak boleh pergi sendiri, Rama. Aku ikut." Ujarnya.

"Lalu, siapa yang menjaga mereka?" Tanyaku sambil menunjuk Mega dan Mila. Hanif menghela napas. Lantas, ide itu muncul begitu saja. "Bagaimana kalau Mega ikut denganku?"

Hanif terdiam sejenak, lalu akhirnya mengangguk. "Baiklah," ujarnya. Giliran Mega yang menghela napas.

Dan begitulah. Malam berlalu cepat. Dini hari yang dingin, sementara Hanif menjaga Mila, aku dan Mega berjalan menembus hutan untuk mencari Sekar. Udara dingin membuat hidungku terasa basah. Saat menghembuskan napas, aku seperti sedang merokok. Dengan bantuan senter dan sebatang kayu, aku berjalan melewati ranting-ranting dan daun-daun kering. Tetap waspada, karena bisa saja di sana ada ular. Mega mengikutiku di belakang. Merapat padaku, dan mencengkeram bagian belakang jaketku. Hampir tidak ada jarak di antara kami. Aku bisa mencium wangi parfum stroberinya. Sejak dulu, Mega memang selalu wangi, bahkan sekarang, setelah tiga hari tidak mandi.

Sejenak, aroma stroberi itu membawaku ke masa-masa ketika kami masih pacaran. Dulu, kami pernah sangat dekat, seolah tak terpisahkan. Aku nyaman bersama Mega. Dia yang terindah. Mega jauh lebih baik dari Lia, mantan terakhirku, dan bahkan mantan-mantanku yang lain. Kami putus karena salahku. Aku terlalu cuek, menganggap bahwa Mega tidak akan pergi. Dan ketika Mega betulan pergi, aku baru menyesal.

Namun, sekarang ia ada di belakangku. Cewek yang hampir tiga tahun ini kuharapkan untuk kembali, berada sangat dekat denganku. Sekaranglah saatnya, pikirku. Sebelum aku mati kelaparan, atau dimakan macan.

Sambil terus berjalan, aku mengumpulkan keberanian. Dan saat langit sudah mulai terang, ketika kami duduk di sebuah batu untuk beristirahat, kalimat itu keluar begitu saja. "Mega, aku… aku masih sayang sama kamu."

Mega tertegun. Ia terdiam menatapku. Lantas mulai membuka mulut. "Aku..."

Hening.

"Aku mendengar sesuatu, Ram."

"Ha? Apa?"

"Helikopter!"

Terburu-buru, ia naik ke sebuah batu besar di dekat kami. Benar saja. Tak lama kemudian, sebuah helikopter melintas di atas kami. Mega tengadah dan mulai berteriak-teriak. Di sebelahnya, aku merentangkan tangan lebar-lebar, lalu menggerak-gerakkannya. "TOLONG! TOLONG! WOY!" Teriakku sekencang mungkin.

Namun, helikopter itu malah melaju pergi. Semakin lama semakin menjauh di angkasa. Habis sudah, pikirku. Apa hidup kami memang harus berakhir di sini?

***

Simak kelanjutan ceritanya di falling-eve.blogspot.com oleh Kireina Enno (@kireinaenno).

Rabu, 13 Mei 2015

Mencari Rana yang minggat dari rumah

Pada hari minggu pagi, Widi sedang menikmati nyamannya kasur dan selimut yang hangat, saat mendengar kabar bahwa sahabatnya—Rana, kabur dari rumah, dan kemungkinan besar akan bunuh diri.

Kabar itu langsung didapatnya dari orang tua Rana, yang menelepon Widi pagi-pagi sekali, tepat ketika dia sedang berciuman dengan Justin Bieber di dalam mimpinya.

Hal itu lumayan membuatnya kesal, namun hanya sebentar, karena Widi langsung mengkhawatirkan sahabatnya itu. Masalahnya, bukan kali ini saja Rana pernah mencoba untuk bunuh diri. Dulu, dia pernah kejang-kejang karena menenggak obat sakit kepala dan minuman beralkohol secara bersamaan, hanya karena anggota boyband kesayangannya, si Zayn Malik keluar dari One Direction. Waktu itu, Widi tidak habis pikir, bagaimana mungkin Rana mau bunuh diri hanya karena seorang cowok brewokan yang memutuskan keluar dari sebuah boyband. Nggak penting banget, pikirnya. Widi bahkan tidak bisa membedakan tampang Zayn Malik dengan Ridho Rhoma, kecuali mereka membuka baju. Karena salah satunya memiliki bulu dada selebat Hutan Amazon.

Bagaimana pun, itu hal paling bodoh yang pernah Widi dengar. Dia memang tidak pernah peduli dengan artis-artis luar negeri. Kecuali satu kali, ketika Justin Bieber putus dengan Selena Gomez, dia merayakannya dengan menraktir teman-teman satu kelas.

Setelah menerima telepon dari orang tua Rana, Widi duduk di kasurnya sambil merenung. Tadi, orang tua Rana mengatakan bahwa anaknya yang cengeng itu meninggalkan surat yang berisi sebuah kalimat petunjuk.

"Sebelum semua terlambat, carilah aku di tempat bertemunya daratan dan lautan."