Selasa, 27 Oktober 2015

Bayu dan Ayas

Seharusnya dia sudah datang, itu yang dipikirkan Ayas tiga puluh menit terakhir. Cewek itu sedang duduk di sebuah kafe. Sendirian. Dan telah lewat setengah jam dari waktu yang mereka janjikan. Namun, Bayu—pacarnya—tidak kunjung muncul di kafe itu.

Tatapan Ayas nyaris tak pernah teralih dari pintu masuk kafe, memandangi orang-orang yang masuk ke dalam. Berharap Bayu akan muncul di sana, lalu membawanya pergi. Mereka sudah berjanji akan minggat dari rumah, jika orang tua Bayu tetap tidak merestui hubungan mereka.

Waktu terus berlalu, namun tidak ada tanda-tanda Bayu akan datang. Setiap kali ada sosok cowok tinggi dengan rambut pendek rapi, Ayas akan mengira bahwa itu Bayu. Dan dia akan kecewa, karena ternyata bukan. Ayas pun mulai gelisah. Dia menggigit bibir bawahnya. Kenapa Bayu tidak datang-datang? Apa Bayu berubah pikiran? Tapi kenapa tidak ada kabar? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar-putar di kepalanya. Ayas sudah berusaha menghubungi Bayu, namun teleponnya tidak diangkat dan SMS-nya tidak dibalas. Setelah itu, berkali-kali Ayas menghela napas, namun perasaannya tidak kunjung membaik.