Kamis, 08 Desember 2016

14 MAWAR UNTUK ANA

Henry menatapku sambil tersenyum. "Apa kamu mau jadi istriku, Ana?" tanyanya.

Aku mengangguk. "Iya, aku mau jadi istrimu, Henry." sahutku sambil ikut tersenyum. Berusaha semanis mungkin.

Kira-kira begitulah potongan dialog di akhir cerita ini. Namun, sayang sekali, ini bukanlah kisah happy ending.

Semuanya berawal dari malam perayaan yang penuh keceriaan dan sukacita, lalu tiba-tiba berubah jadi kekacauan. Bahkan, sebelum satu pun kembang api meledak menghiasi langit malam, sebagian besar penonton berlarian panik tak tentu arah di jalanan, seolah rumah mereka terbakar dan mereka harus segera pulang untuk memadamkannya. Kemudian suara-suara sirine mulai terdengar di kejauhan, semakin lama semakin mendekat.

Aku masih kebingungan dengan perubahan situasi itu ketika, tidak lama, tiga ambulan melintas tepat di sampingku. Melaju kencang bagai sedang balapan, berbelok di tikungan lalu menghilang. Hanya suara sirinenya yang masih terdengar, itu pun pelan-pelan melemah di kejauhan. Sesuatu yang buruk telah terjadi, pikirku. Aku harus mencari Henry, pikirku lagi.

Kamis, 13 Oktober 2016

Biar Nggak Nyasar di Jakarta

Beberapa tahun yang lalu, untuk pertama kalinya, aku datang ke Jakarta bersama rombongan dalam rangka mengikuti sebuah lomba. Waktu itu, sebagai orang Bali yang sekali pun belum pernah keluar Bali, aku tentu saja sempat merasa deg-degan. Apa benar Jakarta itu seseram yang terlihat di TV?

Dalam perjalanan, setelah memasuki wilayah Jakarta dengan menggunakan bus, aku bengong menatap pemandangan dari jendela. Hampir semuanya ada di luar sana. Mulai dari pemukiman kumuh, sampah-sampah, rumah mewah, sampai gedung-gedung yang menjulang tinggi di sisi-sisi jalan. Ketika menginjakkan kaki turun dari bus, kesan pertama yang muncul adalah panas. Lalu bingung. Tergopoh, aku mengikuti rombongan. Nggak berani terpisah. Kebetulan, saat itu, acara lombanya diadakan di Senayan. Selama semingguan itu, aku berpikir. Bagaimana jadinya jika aku berada di Jakarta tanpa ditemani rombongan? Mungkin aku bakal tersesat, tak tau arah jalan pulang, dan jadi gembel.

Makanya, aku berusaha mencari informasi, supaya tau apa yang harus dilakukan jika suatu hari nanti harus kembali ke Jakarta sendirian. Kalau memungkinkan, bukan hanya selamat, tapi juga bisa menikmati perjalanan ke objek-objek wisata di Jakata. Siapa tau ketemu gebetan, lalu jadi dekat, menikah, dan hidup bahagia selamanya.

Minggu, 04 September 2016

Giveaway novel Galaupreneur


Judul: Galaupreneur
Genre: Komedi
Penulis: Ramayoga
Penerbit: Stiletto Indie Book
Tebal: 153 halaman
Terbit: Agustus 2016

Sinopsis:
Buku ini berkisah tentang seorang cewek bernama Rena, yang keluarganya sedang terkena musibah. Bapaknya sakit pikun, ibunya stres, dan adiknya nggak lulus-lulus kuliah.

Rena sebagai anak pertama, tentu ingin membantu keluarganya, dia pun mencari pekerjaan apa saja, supaya kondisi keluarganya bisa membaik. Namun, dia malah terjebak dalam pekerjaan yang nggak disukainya, setiap pagi harus pergi ke kantor, dan merasa seperti berangkat ke neraka.

Suatu hari, sambil terus berusaha bertahan di kantornya itu, Rena bertemu dengan Deva, cinta pertamanya waktu SMA. Sayangnya, seperti ketika SMA, Deva nggak nunjukin tanda-tanda suka sama Rena. Iya, cinta Rena masih saja bertepuk sebelah tangan.

Begitulah. Rena terus berjuang membantu keluarganya, sambil berusaha mendapatkan cinta pertamanya.

Giveaway:
Nah, setelah membaca ringkasan cerita di atas, ada 1 buah novel Galaupreneur yang bisa kamu miliki. Caranya gambang bingit, begini...

1) Kamu bertempat tinggal di Indonesia.

2) Punya akun Twitter.

3) Follow akun Twitter @ramadepp dan @stiletto_book.

4) Jawab pertanyaan berikut ini: "Seandainya kamu mengalami hal yang sama dengan Rena (berada di tempat kerja yang nggak disukai, dan cintamu kebetulan juga bertepuk sebelah tangan), apa yang bakal kamu lakuin?"

5) Tulis jawabanmu di kolom komentar, dan sertakan nama akun Twittermu di akhir jawaban.

Udah itu aja syaratnya.

Jawaban yang paling menarik bakal dapatin 1 buah novel Galaupreneur. Nggak harus bagus sih jawabannya, yang penting bisa bikin ngakak, atau paling nggak, bikin senyum-senyum sendiri.

Giveaway ini akan berlangsung sampai tanggal 11 September 2016 pukul 23:59.

Pemenangnya bakal diumumin tanggal 12 September 2016, di akun Twitter @ramadepp. Jika dalam waktu 48 jam nggak ada tanggapan dari pemenang, maka yang bersangkutan akan digantikan dengan peserta yang lain.

Demikian.

Selamat menjawab pertanyaan. Good luck yaaa...

Minggu, 28 Agustus 2016

Filosofi Kopi Sachet

Kisah ini adalah sekuel dari film Filosofi Kopi dari karya Dewi Lestari, yang saya buat sendiri untuk mengobati kerinduan terhadap tokoh-tokohnya dan apa yang mereka alami selanjutnya. Semoga suka. Terima kasih, dan selamat membaca.

*** 

Tiga tahun setelah kafe kami dijual, dan Filosofi Kopi pindah ke bus bertingkat dua, kami sudah berkeliling Indonesia–Jakarta, Yogyakarta, Bali, dan lain-lain–untuk menjajakan kopi. Di luar dugaan, usaha kami berjalan lumayan baik. Setidaknya, aku bisa menabung, Ben bisa bertemu banyak penggemar baru, dan pegawai-pegawai kami bisa hidup lumayan sejahtera. Namun, rasanya semua masih bisa lebih baik lagi.

Aku masih belum puas.

Apa lagi, setelah suatu hari, aku bertemu seorang pengusaha yang menawariku sebuah mesin pencetak kopi sachet.

Ketika kutemui saat makan siang di sebuah restoran, dengan menggebu-gebu si pengusaha mengatakan. “Jika anda punya mesin ini, anda sudah pasti akan menghasilkan lebih banyak uang. Karena dalam satu jam, mesin ini bisa mencetak lebih dari tiga ribu sachet. Dan coba bayangkan jika Filosofi Kopi bertransformasi ke dalam bentuk sachet, dan penjualannya bisa menyebar ke berbagai daerah, bahkan luar negeri. Anda bisa go internasional, Pak Jody!” Tuturnya bersemangat. “Jika anda berjualan dengan menggunakan mobil, jelas anda tidak akan bisa melakukan itu.” Tandasnya tajam, dan membuatku berpikir lama.

Selepas pertemuan itu, aku terus memikirkan penawaran tersebut, dan menyimpulkan bahwa apa yang dikatakan si pengusaha memang ada benarnya. Kopi sachet memiliki cakupan yang lebih luas, ditambah biaya distribusi yang lebih kecil. Dari segi itu saja, keuntungan yang bisa kudapat akan jauh lebih besar. Seharusnya, sejak dulu aku mengembangkan bisnis dalam bentuk kopi sachet.

Keesokan harinya, sambil berkeliling dengan bus–menjajakan kopi di dekat Tugu Monas, aku menceritakan semuanya kepada Ben.

Minggu, 28 Februari 2016

Metafora Tiwi

Cerpen ini adalah cerpen duet saya dengan salah satu teman menulis, Billa dari grup CircleWriters di LINE. Awalnya saya sedang menjadi silent reader di grup itu, yang seingat saya, waktu itu, sedang membahas bahwa grup sedang sepi atau semacamnya. Lalu, saya berinisiatif untuk membuat ramai dengan main cerita bersambung. Jadi, saya menulis kalimat pembuka cerpen ini, yaitu: "Pada suatu masa di Kota Jakarta, hiduplah seorang cewek bernama Tiwi. Dia punya cita-cita ingin jadi penulis. Dan memiliki sebuah karya yang mengesakan."

Saya pun menunggu.

Dari 60-an orang yang ada di grup itu, Billa merespon dengan baik ajakan untuk menulis bareng ini, dia menambahkan satu kalimat: "Tetapi takdir berkata lain." Lalu saya menambah satu kalimat lagi, setelah itu Billa lagi. Begitu terus sampai cerpen ini selesai. Memang pada akhirnya, kami tidak hanya saling menambahkan satu kalimat, karena lama-lama—entah karena kami terlalu bersemangat, sekali mendapat giliran, saya dan Billa bisa menulis satu sampai dua paragraf. Dan kami pun menyelesaikan cerpen ini hanya dalam waktu beberapa jam. Dari siang hingga sore.

Bagi saya, rasanya menyenangkan sekali bisa menulis secara duet seperti ini. Dan saya berharap, semoga kamu juga bisa menikmati cerita ini. Selamat membaca!