Minggu, 28 Agustus 2016

Filosofi Kopi Sachet

Kisah ini adalah sekuel dari film Filosofi Kopi dari karya Dewi Lestari, yang saya buat sendiri untuk mengobati kerinduan terhadap tokoh-tokohnya dan apa yang mereka alami selanjutnya. Semoga suka. Terima kasih, dan selamat membaca.

*** 

Tiga tahun setelah kafe kami dijual, dan Filosofi Kopi pindah ke bus bertingkat dua, kami sudah berkeliling Indonesia–Jakarta, Yogyakarta, Bali, dan lain-lain–untuk menjajakan kopi. Di luar dugaan, usaha kami berjalan lumayan baik. Setidaknya, aku bisa menabung, Ben bisa bertemu banyak penggemar baru, dan pegawai-pegawai kami bisa hidup lumayan sejahtera. Namun, rasanya semua masih bisa lebih baik lagi.

Aku masih belum puas.

Apa lagi, setelah suatu hari, aku bertemu seorang pengusaha yang menawariku sebuah mesin pencetak kopi sachet.

Ketika kutemui saat makan siang di sebuah restoran, dengan menggebu-gebu si pengusaha mengatakan. “Jika anda punya mesin ini, anda sudah pasti akan menghasilkan lebih banyak uang. Karena dalam satu jam, mesin ini bisa mencetak lebih dari tiga ribu sachet. Dan coba bayangkan jika Filosofi Kopi bertransformasi ke dalam bentuk sachet, dan penjualannya bisa menyebar ke berbagai daerah, bahkan luar negeri. Anda bisa go internasional, Pak Jody!” Tuturnya bersemangat. “Jika anda berjualan dengan menggunakan mobil, jelas anda tidak akan bisa melakukan itu.” Tandasnya tajam, dan membuatku berpikir lama.

Selepas pertemuan itu, aku terus memikirkan penawaran tersebut, dan menyimpulkan bahwa apa yang dikatakan si pengusaha memang ada benarnya. Kopi sachet memiliki cakupan yang lebih luas, ditambah biaya distribusi yang lebih kecil. Dari segi itu saja, keuntungan yang bisa kudapat akan jauh lebih besar. Seharusnya, sejak dulu aku mengembangkan bisnis dalam bentuk kopi sachet.

Keesokan harinya, sambil berkeliling dengan bus–menjajakan kopi di dekat Tugu Monas, aku menceritakan semuanya kepada Ben.