Postingan

Menampilkan postingan dari 2019

Pembiaran Menyebalkan dan Hukum Karma

Final sepak bola Sea Games 2019 sudah berakhir, Indonesia kalah dari Vietnam. Iya, menang kalah itu biasa. Namun, ada yang mengganjal dari pertandingan itu. Pemain nomor 5 Vietnam, menginjak kaki kiri Evan Dimas sampai cidera. Dan wasit membiarkannya. Seolah tidak ada yang terjadi. Tidak ada kartu sama sekali. Tidak ada teguran atau apapun. Banyak juga pelanggaran pemain Vietnam ke pemain Indonesia lainnya, yang dibiarkan saja.  Ada rasa keadilan yang tidak terpenuhi. Rasa sakit yang tidak terobati. Tapi tidak seorang pun bisa memperbaiki, dan menganggap semua itu normal. Kalau diumpamakan, misalnya ada seorang murid SMP, mengadukan ke gurunya bahwa barangnya dicuri oleh Si A, salah satu murid di kelas yang sama. Kemudian korban menunjukkan rekaman CCTV, memang benar Si A yang mengambil barang itu. Tapi, si guru, yang entah karena alasan sibuk, atau malas (toh dia nggak dapat duit juga kalau mengurusi kasus pencurian murid ini), atau mungkin si guru ingin memberikan kesempatan kedua ba

Belajar Sesuatu dari Film Gundala

Gambar
Minggu lalu, entah hari apa aku lupa, akhirnya aku dan istri nonton film Gundala. Filmnya bagus. Walupun nggak sempurna, tapi yah cukup membanggakan. Super spoiler alert. Ada tiga twist besar di film ini.  Pertama, ternyata penjahatnya bukan Pengkor. Bukan. Penjahatnya adalah Ghani Zulham, anak buahnya Pengkor. Makanya nggak heran si Pengkor matinya cepet banget, tinggal didor aja sama si anggota DPR, Pak Ridwan. Kedua, nggak ada beras yang terkontaminasi "Serum Amoral". Nggak ada. Justru penawar serum itu, yang diperdebatkan panjang lebar di DPR dan akhirnya disetujui untuk disebarkan, adalah Serum Amoral itu sendiri. Ah, pintar sekali bikin kejutan. Ketiga, sebenarnya... SEMUA. Iya, sekali lagi.... SEMUA. Semua usaha si penjahat, mulai dari bakar pasar, meracuni beras dengan zat yang katanya Serum Amoral, perdebatan di DPR agar penawar Serum Amoral tidak disetujui tapi malah disetujui. Semuanya. Semuanya hanya untuk satu tujuan. Memancing Sancaka

Berat Badan dan Diet Mulai Besok

Kemarin, waktu jalan-jalan ke rumah Anya, adikku (sekarang dia udah nikah, jadi tinggal di rumah suami di Dalung). Di sana, ada timbangan digital, yang tingkat keakuratannya tinggi. Kita bisa tau sampai angka-angka di belakang koma. Nah, aku pun menimbang berat badan. Dan langsung shock. 90,03 kg. Astaga. Memang sih semenjak aku nikah, tahun 2018 lalu, berat badanku nambah terus. Tapi nggak nyangka bisa naik sebegitunya. Tinggal sepuluh kilo lagi untuk mencapai 100 kg, aku pun bakal mirip celeng. Sejak kejadian itu, aku jadi pengin kembali ke jalan yang benar. Kembali berusaha meringankan tubuh. Minimal kayak dulu, 72 kg. Tapi, semua nggak semudah itu, Fulgoso. Dengan serbuan makanan dan camilan yang enak-enak, harus punya tekad yang sangat kuat untuk menolak memindahkan semua godaan itu ke dalam perut. Kalau di negara-negara miskin, godaannya susah nyari makan. Di negara-negara berkembang, godaannya susah berhenti makan. Berat badan pun naik terus. Ditamba

Presiden Jokowi dan Jan Ethes

Gambar
Semuanya bermula ketika Pak Jokowi ngajak cucunya, Jan Ethes, untuk membuka PKB 2019 di Bali, aku jadi tergerak untuk menggambar beliau dan cucunya yang lucu itu. Dan aku jadiin seukuran wallpaper HP. Jadi, buat yang tertarik, silahkan diambil. Terima kasih kembali.

Fenomena Jomblo Menahun

Kalau seseorang sampai puluhan tahun menjadi jomblo, ada yang salah dengan orang itu. Begitulah kutipan sebuah film yang aku tonton. Entah film apa, aku udah lupa. Tapi kutipan itu terus terbayang-bayang di kepala. Apa benar? Tentu saja tidak benar. Karena nggak ada yang salah dengan menjadi jomblo. Semua orang kan berhak pengin punya pasangan atau nggak. Kalau dia memilih untuk sendiri beberapa tahun, atau seumur hidupnya. Ya sudah. Selama dia nggak melakukan tindakan kriminal. Nggak ada yang perlu dipermasalahkan. Itu pilihan hidup masing-masing orang. Tapi...

Cara Menggunakan "Bodo Amat" Dengan Baik

Sebagaimana semua hal yang ada di dunia, sikap nggak peduli (atau Bodo Amat) juga bisa digunakan dengan baik atau salah. Kebanyakan sih orang-orang (apalagi manusia-manusia dengan EGO yang setinggi langit), biasanya menggunakan "Bodo Amat" dengan (SANGAT) salah. Misalnya. Seseorang dihadapkan pada sebuah keadaan begini. Secara nggak sengaja, dia merobek celana pendek yang digunakannya. Sehingga dalemannya terlihat. Dia pun kabur ke mobil, dan berencana nggak akan turun dari mobil sampai tiba di rumah. Namun, di jalan, ada seekor anak kucing kelaparan, berbaring di trotoar. Si Celana Robek pun mengalami dilema. Menyelamatkan kucing itu, dengan resiko bokong seksinya akan terlihat oleh dunia. Atau, pulang ke rumah dan ganti celana. Persetan dengan anak kucing. Orang baik, yang menggunakan Bodo Amat dengan benar, pasti akan turun dan menyelamatkan si kucing. "Bodo Amat bokong seksi gue dilihat dunia." Pikirnya. Sedangkan, orang yang... yah begitulah, yang meng

Dihantui Masa Lalu

Hampir semua orang dihantui masa lalu. Kecuali bayi. Karena belum banyak masa lalu yang dia miliki. Namun begitu beranjak dewasa, dan sudah melalui banyak kejadian dalam hidup, yang kemudian lewat, dan menjadi masa lalu. Hantu-hantu masa lalu pun mulai muncul.  Bentuknya macam-macam. Salah satunya. Misalnya. Dulu pernah putus dari pacar, akhirnya jomblo bertahun-tahun dan dibilang suka sesama jenis. Dan sering ditanya-tanya. "Kapan kawin? Kapan kawin?" Atau kejadian memalukan lain di masa lalu. Atau menyakitkan. Atau menyebalkan. Atau kombinasi banyak kejadian yang tidak menyenangkan. Semua itu menimbulkan trauma. Lama-lama, karena terlalu banyak trauma yang menumpuk, sehingga mengikis kebaikan yang ada di dalam diri. Kepolosan di masa kecil pun menghilang. Makanya ada yang bilang, orang dewasa adalah akumulasi trauma-trauma masa lalu.