Rabu, 11 Desember 2019

Pembiaran Menyebalkan dan Hukum Karma

Final sepak bola Sea Games 2019 sudah berakhir, Indonesia kalah dari Vietnam. Iya, menang kalah itu biasa. Namun, ada yang mengganjal dari pertandingan itu. Pemain nomor 5 Vietnam, menginjak kaki kiri Evan Dimas sampai cidera. Dan wasit membiarkannya. Seolah tidak ada yang terjadi. Tidak ada kartu sama sekali. Tidak ada teguran atau apapun.

Banyak juga pelanggaran pemain Vietnam ke pemain Indonesia lainnya, yang dibiarkan saja. 

Ada rasa keadilan yang tidak terpenuhi. Rasa sakit yang tidak terobati. Tapi tidak seorang pun bisa memperbaiki, dan menganggap semua itu normal.

Kalau diumpamakan, misalnya ada seorang murid SMP, mengadukan ke gurunya bahwa barangnya dicuri oleh Si A, salah satu murid di kelas yang sama. Kemudian korban menunjukkan rekaman CCTV, memang benar Si A yang mengambil barang itu. Tapi, si guru, yang entah karena alasan sibuk, atau malas (toh dia nggak dapat duit juga kalau mengurusi kasus pencurian murid ini), atau mungkin si guru ingin memberikan kesempatan kedua bagi Si Murid A untuk bertobat. Si Guru nggak melakukan apapun. Dia diam saja. Kasus itu dibiarkan begitu saja. 

Tentu ada rasa sakit di hati murid yang kehilangan barang. Tapi nggak ada yang bisa dia lakukan.

Kembali ke kasus Evan Dimas, kalau di Liga Sepak Bola luar negeri, ada yang namanya fasilitas VAR. Wasit melihat ulang tayangan di video, kemudian dia mengambil keputusan, apakah tetap pada keputusan lama atau mengoreksi keputusannya sendiri. Sedangkan kemarin, di final sepak bola Sea Games, fasilitas VAR itu tidak ada. Jadi, Evan Dimas dan seluruh pendukung Indonesia, bernasib sama seperti si murid yang tadi kecurian barang. Nggak ada yang bisa dilakukan.

Namun, sudah ada hukum alam lain yang tidak bisa dihindari oleh siapapun (sama seperti hukum gravitasi). Namanya Hukum Karma.

Siapa yang berbuat, dia juga yang akan mendapat hasilnya. Dan Si Karma ini sangat, sangat sabar. Dia bisa menunggu sepuluh, bahkan dua puluh tahun, untuk memberikan hasil dari perbuatanmu. Si Karma bahkan bisa menunggumu di kehidupan selanjutnya. 

Mengerikan.

Jadi, kalau sekarang ini, Si A dan Si Pemain Vietnam nomor 5, seolah-olah selamat dari semua perbuatan bejatnya, itu karena memang belum waktunya saja. 

Tetapi... Begitu Si Karma datang. Nggak ada yang bisa dilakukan.

Makanya, usahakan selalu berbuat baik. Terutama terhadap orang-orang terdekatmu.

2 komentar:

  1. walopun aku aku ga terlalu mandang ke sepak bola waktu di sea games,, aku bisa paham kok.... kesel, tapi yaaa gimana lagi?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, hehe, kadang memang sering seperti itu.

      Hapus