Postingan

Kecantikan Sempurna dari Dalam

Gambar
Sebagai seorang penyandang status jomblo selama kurang lebih sepuluh tahun, saya sudah pernah ditolak berkali-kali. Sisi positifnya, saya jadi kenal banyak karakter wanita. Dari pengalaman itulah, saya menyimpulkan. Kecantikan seorang wanita, sebenarnya berasal dari dalam. Ya, tentu saja, kecantikan luar, wajah dan tubuh juga penting. Pemilihan cosmetic dan produk underwear yang baik, sudah menjadi hal yang wajib. Apalagi, kecantikan luar sangat mudah dipermak, ada cosmetic dan ahli make up artist yang bisa membereskan itu. Tubuh juga bisa dibentuk dengan olahraga, diet, dan pemilihan produk underwear yang baik. Namun, itu semua tidak akan ada artinya jika seorang perempuan tidak memiliki keindahan di dalam. Sebab, ketika kita berbicara tentang kecantikan, sebenarnya itu bukan soal penampilan luar saja.  Keindahan sempurna seorang wanita berasal dari dalam . Lalu, apa yang dimaksud dengan cantik dari dalam itu? Apa sebenarnya keindahan sempurna yang berasal dari dalam? Dari pengal

Covid 19 dan Hobi Menggambar

Gambar
Memasuki tahun 2021, di pertengahan bulan Januari ini, Covid masih berlanjut. Di Bali, sejak awal bulan sudah dilaksanakan "pembatasan" oleh pemerintah. Entah PSBB atau PKM namanya, sudah tidak jelas lagi. Yang jelas, kegiatan masyarakat dibatasi sampai pukul 9 malam. Jika melewati batas itu, akan dibubarkan. Oh ya, sebelum lupa, Bli JRX sudah divonis 1 tahun 2 bulan penjara. Lalu, jaksa penuntut umum banding, dan hukumannya malah berkurang jadi 10 bulan penjara. Hehe. Kembali ke Corona, di tahun 2021 ini, pemerintah sudah menyediakan beberapa juta vaksin untuk tenaga kesehatan. Tentu, bagi sebagian tenaga kesehatan, ini berita baik. Tapi, anehnya, sebagian lagi malah takut divaksin. Yah, bisa dimaklumi, di tengah ketidakjelasan berita, banyak orang jadi ragu. Entah yang mana yang benar. Ditambah lagi korupsi bansos yang dilakukan pemerintah, semakin membuat tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah terjun bebas. Begitulah.  Hmmm. Kalo dipikir-pikir, banyak hal aneh yang

Covid 19, Konspirasi, dan Layang-layang

Gambar
Sudah memasuki pertengahan bulan Juni. Virus terkutuk Covid 19, masih menjadi wabah di seluruh dunia. Di Bali, terhitung sampai tanggal 19 Juni kemarin, jumlah kasus positif Covid 19 sudah mencapai 976. Astaga. Banyak ya. Nggak heran, sekarang ini, saat ketemu orang, atau telpon-telponan. Kalau denger pertanyaan basa-basi. "Apa kabar? Sehat?". Itu maksudnya bukan basa-basi lagi. Itu maksudnya serius nanya. "Sehat kan? Belum kena Covid kan?" Huft. Di tengah pandemi begini. Di tengah serbuan gelapnya berita tentang Corona yang mencekam. Ada setitik cahaya datang dari Kuta. Nama cahaya itu adalah Bli JRX SID. Beliau (setahuku) yang pertama kali berani mencetuskan, bahwa Covid 19 adalah konspirasi elit global. Bahwa ada 1% manusia (ini yang JRX sebut sebagai elit global), yang menguasai berbagai aspek kehidupan masyarakat dunia. Termasuk menguasai WHO. Mereka akan membuat vaksin, agar vaksinnya laku, maka disebarkan informasi palsu secara besar-besaran

New Normal Setelah Covid 19

Juni 2020. Di Bali, ada beberapa perkembangan baru, sejak postingan sebelumnya tentang Corona. Jika di awal bulan Maret lalu, masker medis adalah barang yang sangat langka. Dan demi Tuhan, harganya nggak masuk akal. Sekarang sudah banyak yang menjual masker kain di toko-toko, dan bahkan di pinggir jalan. Tentunya dengan harga yang terjangkau. Mulai dari 5 ribu rupiah. Selain itu, tempat-tempat cuci tangan dan hand sanitizer juga sudah banyak disediakan di toko-toko, swalayan, dan kantor-kantor pemerintahan. Agar pengunjung, bisa cuci tangan dulu sebelum masuk ruangan. Hmmm. Untuk urusan jaga jarak. Walaupun masih susah, tapi mulai dibiasakan. Di ruang tunggu, misalnya. Ada jeda setiap satu atau dua tempat duduk. Ditempeli stiker merah peringatan. Supaya pengunjung tidak duduk di sana, dan memberi jarak sekitar 1 sampai 1,5 meter, dari satu pengunjung ke pengunjung lainnya.  Setiap sore, pecalang berpatroli, memperingatkan orang-orang yang ada di luar rumah untuk

Hidup Setelah Virus Korona

Awal bulan Maret 2020, hidup masih terasa normal. Lalu virus korona menyerang. Di tempat tinggalku, di Denpasar, Bali, virus korona sempat terasa jauh sekali. Di negeri antah berantah bernama Wuhan, sampai ada seorang bule yang tumbang di atas motor yang di parkir di trotoar. Banyak yang bilang, bule itu mabuk karena kebanyakan minum tuak. Ada juga yang bilang bule itu mati karena virus korona. Tapi, orang-orang lebih percaya bahwa si bule tua bangka itu kebanyakan minum tuak. Namun, akhirnya berita resmi dirilis, si bule mati karena korona. Dari sana, mulai bermunculan berita dari pemerintah, bahwa jumlah positif korona di Bali terus bertambah, sampai tulisan ini dibuat sudah berjumlah 9 kasus positif.  Virus korona yang tadinya jauh, mulai terasa dekat sekali. Aku mulai jarang keluar rumah, mulai takut kalau ada orang bersin dengan nikmat di dekatku, mulai cuci tangan lebih sering dari biasanya. Pokoknya bawaannya parno melulu. Untuk urusan ekonomi juga sangat berpengaruh, orang-oran

Pembiaran Menyebalkan dan Hukum Karma

Final sepak bola Sea Games 2019 sudah berakhir, Indonesia kalah dari Vietnam. Iya, menang kalah itu biasa. Namun, ada yang mengganjal dari pertandingan itu. Pemain nomor 5 Vietnam, menginjak kaki kiri Evan Dimas sampai cidera. Dan wasit membiarkannya. Seolah tidak ada yang terjadi. Tidak ada kartu sama sekali. Tidak ada teguran atau apapun. Banyak juga pelanggaran pemain Vietnam ke pemain Indonesia lainnya, yang dibiarkan saja.  Ada rasa keadilan yang tidak terpenuhi. Rasa sakit yang tidak terobati. Tapi tidak seorang pun bisa memperbaiki, dan menganggap semua itu normal. Kalau diumpamakan, misalnya ada seorang murid SMP, mengadukan ke gurunya bahwa barangnya dicuri oleh Si A, salah satu murid di kelas yang sama. Kemudian korban menunjukkan rekaman CCTV, memang benar Si A yang mengambil barang itu. Tapi, si guru, yang entah karena alasan sibuk, atau malas (toh dia nggak dapat duit juga kalau mengurusi kasus pencurian murid ini), atau mungkin si guru ingin memberikan kesempatan kedua ba

Belajar Sesuatu dari Film Gundala

Gambar
Minggu lalu, entah hari apa aku lupa, akhirnya aku dan istri nonton film Gundala. Filmnya bagus. Walupun nggak sempurna, tapi yah cukup membanggakan. Super spoiler alert. Ada tiga twist besar di film ini.  Pertama, ternyata penjahatnya bukan Pengkor. Bukan. Penjahatnya adalah Ghani Zulham, anak buahnya Pengkor. Makanya nggak heran si Pengkor matinya cepet banget, tinggal didor aja sama si anggota DPR, Pak Ridwan. Kedua, nggak ada beras yang terkontaminasi "Serum Amoral". Nggak ada. Justru penawar serum itu, yang diperdebatkan panjang lebar di DPR dan akhirnya disetujui untuk disebarkan, adalah Serum Amoral itu sendiri. Ah, pintar sekali bikin kejutan. Ketiga, sebenarnya... SEMUA. Iya, sekali lagi.... SEMUA. Semua usaha si penjahat, mulai dari bakar pasar, meracuni beras dengan zat yang katanya Serum Amoral, perdebatan di DPR agar penawar Serum Amoral tidak disetujui tapi malah disetujui. Semuanya. Semuanya hanya untuk satu tujuan. Memancing Sancaka