Senin, 04 Februari 2019

Cara Menggunakan "Bodo Amat" Dengan Baik

Sebagaimana semua hal yang ada di dunia, sikap nggak peduli (atau Bodo Amat) juga bisa digunakan dengan baik atau salah. Kebanyakan sih orang-orang (apalagi manusia-manusia dengan EGO yang setinggi langit), biasanya menggunakan "Bodo Amat" dengan (SANGAT) salah.

Misalnya. Seseorang dihadapkan pada sebuah keadaan begini. Secara nggak sengaja, dia merobek celana pendek yang digunakannya. Sehingga dalemannya terlihat. Dia pun kabur ke mobil, dan berencana nggak akan turun dari mobil sampai tiba di rumah. Namun, di jalan, ada seekor anak kucing kelaparan, berbaring di trotoar. Si Celana Robek pun mengalami dilema. Menyelamatkan kucing itu, dengan resiko bokong seksinya akan terlihat oleh dunia. Atau, pulang ke rumah dan ganti celana. Persetan dengan anak kucing.

Orang baik, yang menggunakan Bodo Amat dengan benar, pasti akan turun dan menyelamatkan si kucing. "Bodo Amat bokong seksi gue dilihat dunia." Pikirnya. Sedangkan, orang yang... yah begitulah, yang menggunakan Bodo Amat dengan keliru, pasti bakal melakukan sebaliknya. "Bodo Amat dengan kucing terkutuk itu, saya harus menyelamatkan bokong korengan saya terlebih dahulu."

Demikianlah. 

Penggunaan "Bodo Amat", bisa dilakukan dengan baik dan salah. Berbeda bagi masing-masing manusia. Tergantung tingkat keegoisannya. Tergantung tingkat kedewasaannya. Tergantung tingkat keterbukaan pikirannya. Bagi orang-orang egois dan kekanak-kanakan, Bodo Amat bisa jadi sangat berbahaya dan menyebalkan. Karena dia bisa nggak peduli pada apapun, kecuali dirinya sendiri. Sedangkan, bagi orang-orang yang dewasa, dan mementingkan orang lain. Bodo Amat bisa digunakan dengan sangat, sangat, sangat elegan.

Satu hal yang perlu diingat. 

Kalo kamu menggunakan Bodo Amat dengan salah, jangan berharap orang lain juga akan peduli sama kamu. Jadi, ketika mendapati kenyataan orang-orang mulai nggak peduli sama kamu. Kamu nggak berhak untuk mengeluh.

Dan, buat kamu yang bisa menggunakan "Bodo Amat" dengan baik. Hal-hal baik juga akan datang. Biasanya sih begitu. Coba aja.

Nah, kamu sudah menggunakan "Bodo Amat" dengan baik atau belom? Boleh diceritakan pengalamanmu dalam menggunakan "Bodo Amat" di momen-momen penting hidupmu. Terima kasih sudah berbagi. 

Daaaaa....

Kamis, 24 Januari 2019

Dihantui Masa Lalu

Hampir semua orang dihantui masa lalu. Kecuali bayi. Karena belum banyak masa lalu yang dia miliki.

Namun begitu beranjak dewasa, dan sudah melalui banyak kejadian dalam hidup, yang kemudian lewat, dan menjadi masa lalu. Hantu-hantu masa lalu pun mulai muncul. 

Bentuknya macam-macam. Salah satunya. Misalnya. Dulu pernah putus dari pacar, akhirnya jomblo bertahun-tahun dan dibilang suka sesama jenis. Dan sering ditanya-tanya. "Kapan kawin? Kapan kawin?" Atau kejadian memalukan lain di masa lalu. Atau menyakitkan. Atau menyebalkan. Atau kombinasi banyak kejadian yang tidak menyenangkan.

Semua itu menimbulkan trauma.

Lama-lama, karena terlalu banyak trauma yang menumpuk, sehingga mengikis kebaikan yang ada di dalam diri. Kepolosan di masa kecil pun menghilang. Makanya ada yang bilang, orang dewasa adalah akumulasi trauma-trauma masa lalu. 

Nah.

Bagaimana cara menghadapinya?

Salah satu yang bisa dicoba adalah, dengan kesadaran bahwa, yang penting bukan apa yang terjadi, tapi kemana kamu melangkah setelah ini?

Kamu mungkin disakiti orang, sehingga menumbulkan luka yang dalam. Atau kamu menyakiti seseorang, sehingga dikejar-kejar rasa bersalah. Ingat saja, luka jiwa atau perasaan bersalah, jangan dibawa ke mana-mana. Karena yang penting bukan apa yang terjadi, tapi kemana kamu melangkah setelah ini.

Demikian.

Buat kamu yang selalu dikejar-kejar masa lalu. Boleh kok dibagi cara kamu menghadapi masa lalu selama ini. Tulis aja di kolom komentar ya.

Terima kasih.

Selasa, 16 Oktober 2018

Begini Cara Menghadapi Mahkluk Menyebalkan.

Di kehidupan sehari-hari, karena begitu banyaknya manusia, suatu ketika semua orang pasti akan berhadapan dengan manusia lain yang menyebalkan. Saking menyebalkannya, mereka jadi nggak mirip manusia. Lebih mirip semacam siluman celeng.

Tanda-tanda manusia menyebalkan adalah, antara lain:
1) Mementingkan diri sendiri, seolah-olah hanya dia manusia yang ada di dunia. Biasanya kata-kata yang sering mereka ucapkan adalah "Saya", "Aku", dan "Persetan dengan yang lain".
2) Cepat marah. Dikit-dikit ngamuk. Cepat sekali tersinggung kalau mendengar perkataan orang lain, padahal sebenarnya yang dibicarakan bukan ditujukan untuk dia.
3) Bahagia melihat orang susah, dan susah melihat orang bahagia. 
4) Jarang mengucapkan kata "Terima kasih", " Maaf", dan "Tolong".
5) Tidak merasa bahwa dirinya menyebalkan.

Kalau kalian yang membaca tulisan ini, merasa seperti lima poin di atas. Berarti kalian menyebalkan. Namun, karena poin nomor 5, mengatakan bahwa orang menyebalkan tidak pernah merasa dirinya menyebalkan. Jadi, yah begitulah...

Lanjut. Jika kalian bertemu orang menyebalkan. Apalagi kalian harus tinggal serumah dengan orang menyebalkan. Berikut adalah beberapa cara untuk menghadapinya:

1) Balas sikap menyebalkannya dengan sama menyebalkan. Mata dibalas dengan mata. Cara pertama ini tidak dianjurkan, namun ini adalah cara termudah. Sebaiknya dihindari, karena akan menimbulkan dendam.
2) Hindari orang itu. Kalau bisa, usahakan jangan sampai ketemu. Atau berusaha sesedikit mungkin berurusan dengan mahkluk menyebalkan itu. Tapi, tentu saja, jika satu kantor atau serumah dengannya, kamu nggak bisa menghindar. Setiap hari harus bertemu.
3) Yang ketiga ini adalah cara yang paling bagus, tapi sulit dilakukan. Ikhlas. Belajar menganggap bahwa orang menyebalkan adalah guru yang menyamar. Dia mengajari kita untuk menerima. Dan membuat jiwa kita lebih dewasa.

Nah, begitulah. Silahkan pilih cara yang mana yang terbaik buat kamu. Kalau kamu punya cara yang lebih baik, mohon dituliskan di kolom komentar.

Rabu, 05 Juli 2017

Prekuel Novel Galaupreneur

Cerita pendek ini merupakan prekuel dari novel komedi saya yang berjudul Galaupreneur. Semoga bisa menghibur, dan selamat membaca...

***

Jadi, begini kisahnya...

Di suatu masa, hiduplah seorang siswi kelas 11, bernama Rena. Anaknya kurus, pendek dan item. Di sekolah, Rena termasuk murid yang biasa aja. Dia payah di pelajaran matematika, dan hampir nggak punya kelebihan, kecuali bakat menggambar.

Pernah, waktu ulangan matematika, saking nggak bisa jawabnya, Rena malah menggambar wajah gurunya di lembar jawaban. Hasilnya, Rena mendapat nilai -1. Iya, dalam pelajaran matematika, Rena bahkan dianggap tidak pantas mendapat nilai 0.

Selain nilainya yang parah, hampir setiap hari, selama setahun setengah bersekolah di SMA, dia nyaris selalu dibully oleh teman-temannya. Sampai suatu ketika, ada seorang siswi baru menyelamatkannya. Seorang cewek manis yang tingkahnya kayak preman, namanya Widi.

Waktu itu, Rena lagi diganggu sama Genk Genma, Gendut Manis. Terdiri dari 3 cewek gembrot tapi merasa manis. Padahal nggak sama sekali. Si ketua genk, nekling kaki Rena sampai jatuh. Lalu dua anggota lainnya menginjak-injak badan Rena, pura-pura nggak tau kalo Rena ada di sana.

Saat itulah, Widi datang. JENG! JENG!

Widi anaknya tinggi (jelas lebih tinggi dari Rena), kulitnya sawo matang, badannya bagus kayak atlet renang, dan rambutnya hitam sebahu.

"APA-APAAN KALIAN! STOP!" Widi membantu Rena berdiri, baju Rena udah compang-camping, dan rambutnya berantakan.

"SIAPA LO? JANGAN MACAM-MACAM SAMA GENK GENMA." Bentak si ketua genk, sambil melangkah maju, ingin menjambak rambut Widi.

Namun, Widi yang tampangnya manis dan lemah lembut itu, dengan gesit menghindar, lalu mendaratkan lututnya ke perut besar si ketua genk. Cewek gembrot itu langsung terkapar di aspal, mulutnya berbusa, dan kejang-kejang. Kedua anak buahnya cuma bengong.

"Kenapa bengong?" Tanya Widi. "Buruan, urus ketua kalian ini. Dan jangan berani-berani ganggu Rena lagi." Bentak Widi sangar.

Kedua anak buahnya pun membantu si ketua berdiri.

Widi mengacungkan tinjunya ke udara, membuat cewek-cewek gembrot itu lari kocar-kacir, lalu berteriak kepada mereka. "Ya bagus, larilah yang kencang, selamatkan diri kalian. Dasar babi-babi gila jelek gembrot terkutuk!"

"Makasi ya." Ujar Rena. "Iya, mulai sekarang lo nggak perlu takut. Ada gue!" Seru Widi.

Begitulah. Sejak itu, Rena nggak pernah dibully lagi. Kalau ada yang berani ngebully, Widi langsung menghajar mereka tanpa ampun.

Anehnya, setelah nggak pernah dibully lagi, Rena tetap saja murung. Widi pun bertanya. "Lo kenapa sih? Naksir cowok?" Celetuk Widi iseng.

Di luar dugaan, Rena mengangguk. Rena pun bercerita bahwa sudah setahun ini, dia suka sama kapten tim sepak bola sekolah, namanya Deva. Deva anaknya tinggi dan putih. Berkat rajin main bola, bodynya jadi atletis, dan perutnya kotak-kotak. Kerenlah pokoknya, kayak artis Korea. Nggak heran Rena suka. Dan perasaan itu semakin bertambah, ketika Deva mendatangi Rena dan minta tolong untuk dilukiskan foto keluarganya.

Dengan senang hati, Rena pun melukis pesanan itu sebaik mungkin, belum pernah dia melukis seserius ini. Bahkan sampai lehernya sakit, dan lupa makan.

Seminggu kemudian, masterpiece Rena pun jadi. Sebuah lukisan yang nyaris sempurna, campuran warnanya indah, paduan antara realis dan abstrak. Dalam lukisan itu, ketiga anggota keluarga Deva tersenyum bahagia. Benar-benar mirip dengan aslinya, bahkan lebih bagus.

Rena memberikan lukisan itu dalam keadaan terbungkus koran, Deva menerimanya. "Makasi ya, Na."

"Iya," sahut Rena.

Baru besoknya Deva datang lagi ke kelas Rena, dan memuji lukisannya. Deva tersenyum, namun matanya berkaca-kaca. Katanya, lukisan Rena memberi keajaiban. Kedua orangtua Deva yang awalnya ingin bercerai, jadi mengurungkan niat mereka itu. Mereka terharu melihat lukisan keluarga yang dilukis oleh Rena, di dalam lukisan itu, mereka terlihat sangat bahagia.

Demikianlah. Ketika itu, Rena begitu bersyukur, karena bisa melakukan sesuatu yang berarti untuk orang yang dia suka.

Namun, kebahagiaan itu hanya sebentar. Deva kembali menjauh.

Selain sibuk persiapan UN, Deva juga sibuk latihan dalam rangka persiapan mengikuti kejuaraan sepak bola antar SMA se-Jakarta.

"Terus lo nggak usaha gitu deketin Deva, Na?" Tanya Widi. Rena menggeleng. "Mana mau dia sama cewek kayak gue." Sahutnya sambil menunduk.

"Ck! Usaha aja belom udah nyerah. Payah! Pantes lo jomblo mulu." Gerutu Widi.

"Terus gue harus ngapain, Wid?" Tanya Rena. Widi tersenyum. "Nih, lo ikutan audisi pencarian bendahara untuk tim sepak bola sekolah aja." Widi memberikan sebuah selebaran, Rena mengamati tulisan di selebaran itu, membacanya dengan seksama.

DICARI: Bendara, untuk tim sepak bola. SYARAT: Berpenampilan menarik, suka bola, dengan nilai matematika minimal 9.

"Waduh, nilai gue nggak cukup." Gumam Rena.

"Berapa emang?" Tanya Widi.

Rena menunduk. "Min satu."

"HAH?! NILAI MACAM APA ITU?" Seru Widi. "GUE AJA YANG SERING BOLOS, NILAI MATEMATIKANYA 6."

Rena diam aja sambil nunduk. Widi geleng-geleng kepala. "Ya udah, lo ngelamar jadi tukang mungut bola aja."

Rena pun ngelamar jadi tukang mungut bola, dan langsung diterima.Sedangkan posisi bendahara ditempati oleh cewek kelas 12, bernama Anjani.

Pada waktu tim latihan, Rena bertugas memunguti bola-bola yang melambung tinggi melewati gawang, dan nyangkut di semak-semak. Kadang, Rena membantu membawa minum untuk para pemain pas sedang istirahat. Bahkan, Rena juga berfungsi sebagai sasaran tembak untuk latihan tendangan bebas.

Semuanya dijalani dengan ikhlas, yang penting bisa melihat Deva setiap hari. Kadang malah dapat ngobrol pula dengan cowok itu.

Suatu hari, selesai latihan, Rena melihat Deva berdiri di loker miliknya. Ketika melihat Rena, Deva buru-buru pergi. Dan waktu loker itu dibuka, ternyata di dalamnya ada bunga mawar. Rena pun senyum-senyum sendiri.

Selama sebulanan, Rena semangat sekali pergi ke sekolah. Bukan buat belajar di kelas, tapi supaya bisa bertemu dengan Deva. Namun, lama-lama, tugas-tugasnya sebagai tukang mungut bola benar-benar menyita waktu, dia jarang bisa bertemu Deva.

Sepanjang latihan, Rena terlalu sibuk membawa minuman untuk para pemain. Sisanya, dia sibuk jadi sasaran tendangan bebas. Satu-satunya penyemangat bagi Rena adalah, ketika latihan selesai, di lokernya, selalu ada setangkai bunga mawar untuk Rena.

Begitulah. Karena latihan yang keras, dan pengorbanan Rena, tim sepak bola sekolahnya pun lolos dari grup sebagai runner up. Walaupun kalah 4-2 di pertandingan pertama, mereka berhasil seri 2-2 di pertandingan kedua, dan menang 2-1 di pertandingan ketiga. Satu tim merayakan keberhasilan itu, dan mereka latihan lebih keras lagi untuk bisa tampil semakin baik. Segalanya masih terasa menyenangkan, sampai Rena ngeliat Deva dipeluk-peluk oleh si bendara, Anjani.

Alhasil, Rena nggak konsen banget menjalani tugas-tugasnya. Mungut bolanya setengah hati, dan banyak pemain yang gak dapat minum.

Selesai latihan, Rena curhat ke Widi, dan dia langsung dimarahi. "Kamu sih, malu-malu banget deketin Deva. Keduluan si Anjani deh." Gerutu Widi.

"Aku harus gimana dong?" Tanya Rena cemberut.

"Kamu harus nembak Deva, sebelum si Anjani itu bergerak duluan." Sahut Widi.

Di latihan berikutnya, Rena bertekad bakal nembak Deva. Namun, dia malah menemukan cowok itu sedang duduk berdua bersama Anjani.

Anjani tampak malu-malu. "Deva, aku suka sama kamu. Mau nggak jadi pacarku?" Ujarnya. Mendengar itu, Rena langsung patah hati. "Aku mau..." Sahut Deva. Rena langsung nangis, dan lari ke kamar ganti. Dia pengin pulang dan bershower.

Di kamar ganti, Rena menemukan seseorang sedang menaruh bunga di dalam lokernya. Tapi bukan Deva, melainkan temannya, Joni.

"Jadi, selama ini, kamu yang naruh bunga di lokerku, Jon?" Tanya Rena sambil nangis.

Joni jadi salah tingkah. "Eh, anu, anu..." Belom sempat melanjutkan, Joni langsung ambil langkah seribu. Kabur!

Tinggal Rena sendiri, patah hati, dan pengin nangis di kamar mandi. Dia pun pulang, dan memutuskan berhenti menjadi anggota panitia tim bola.

Di sisi lain, secara mengejutkan, tim bola SMA Rena, berhasil menembus final. Mereka melawan tim kuat lainnya, yaitu SMA Harapan. Di leg 1, mereka berhasil menang 2-1 di kandang sendiri. Jadi, di leg 2 hanya butuh hasil seri untuk memenangkan turnamen.

Pak Anto, pelatih sekaligus guru olahraga SMA Rena, menargetkan skor 0-0. Piala pun bisa langsung dibawa pulang. Jadi, Pak Anto berencana akan menerapkan taktik parkir pesawat di depan gawang. Pokoknya jangan sampai kebobolan.

Namun, latihan tidak bisa berjalan lancar tanpa kehadiran Rena. Semuanya sudah menghubungi Rena, tapi teleponnya nggak diangkat. Akhirnya, sehari sebelum hari final leg 2, satu tim datang ke rumah Rena. Namun pintu depan terkunci.

 "RENA! RENA!" Panggil mereka.

Di dalam kamar, Rena sebenarnya mendengar, hanya saja dia tidak punya niat untuk keluar.

Sampai akhirnya, Rena mendengar suara Deva yang berteriak. "RENA, BESOK KAMU DATANG YA. KEHADIRAN KAMU SANGAT PENTING BAGI TIM."

Setelah teman-temannya pulang, Rena termenung. Nggak seharusnya masalah kecil menghancurkan tujuan yang lebih besar, pikirnya. Rena memang patah hati. Tapi ada beberapa hal yang harus didahulukan daripada sekedar keegoisan diri sendiri, pikirnya lagi.

Keesokan harinya, ditemani Widi, Rena pun datang ke kandang lawan untuk membantu timnya membawa pulang piala. Dia menyiapkan air mineral di pinggir lapangan, membantu pemain cadangan pemanasan, dan berjoget di pinggir lapangan untuk memberi semangat.

Rena terus bertahan, meskipun harus menahan perasaan sakit hati, setiap kali melihat si Anjani-Anjani itu berteriak untuk Deva.

Di babak pertama, skor masih imbang 0-0. Pak Anto menumpuk 9 pemain di depan gawang, hanya menyisakan Deva sebagai penyerang. Di babak kedua, karena terlalu keras dalam bertahan. Tiga pemain tim Rena mendapat kartu merah. Namun, mereka terus bertahan.

Sayangnya, ketika pertandingan menyisakan 5 menit sebelum berakhir, tim lawan malah berhasil mencetak gol. Skor menjadi 0-1. Agregat 2-2, tapi tim lawan lebih unggul agresivitas gol tandang. Jika ingin juara, tim Rena harus menyamakan kedudukan. Belum cukup bencana sampai di sana, sang kiper malah cidera dan tidak bisa melanjutkan pertandingan.

Masalahnya, sudah tidak ada lagi pemain di bangku cadangan. Yang ada hanya Rena, dan si Anjani. Pelatih pun menyuruh Rena untuk menjadi kiper, hanya karena tampangnya jauh lebih memprihatinkan.

Demi membantu tim yang sedang tertinggal, Rena pun masuk lapangan setelah berganti pakaian dengan seragam kiper.

"Usahakan jangan sampai kita kebobolan lagi." ujar Deva sambil menepuk pundak Rena. Saking tegangnya, Rena jadi pengin beol.

Dengan hanya 8 pemain tersisa, tim Rena, menyerang habis-habisan. Waktu tinggal 2 menit. Kecuali kiper, semua pemain maju menyerang. Giliran tim lawan yang bertahan total. Dan ketika rasanya semua harapan sudah hilang, Deva melakukan tendangan spekulasi dari tengah lapangan. Di luar dugaan, karena begitu kerasnya, bola yang sudah ditepis kiper lawan, malah memantul ke tiang gawang dan masuk.

"GOOLLLL!!!" Seluruh pemain Tim Rena masuk ke lapangan. Seolah pertandingan sudah berakhir dan mereka juara.

Rena ikut melompat-lompat di depan gawang. Berjoget-joget seperti sedang nonton konser dangdut.

Namun, pertandingan belum berakhir. Wasit memerintahkan para pemain kembali ke posisinya. Dan pertandingan dilanjutkan. Waktu masih tersisa 1 menit. Begitu peluit ditiup, pemain lawan langsung membawa bola menuju gawang yang dijaga Rena. Mungkin karena masih terpengaruh euforia gol barusan, para pemain belakang lengah. Mereka gagal menghalau pemain lawan.

Dan tiba-tiba saja, penyerang lawan sudah berhadapan satu lawan satu dengan Rena, si kiper gadungan.

Rena benar-benar nggak tau apa yang harus dilakukan. Jadi dia berlari maju, dan berusaha menendang bola. Namun, tendangannya meleset dan malah mengenai selangkangan pemain lawan. Si pemain terkapar, memegangi burungnya.

Peluit ditiup, pelanggaran di kotak pinalti. Wasit menunjuk titik putih. Giliran tim lawan yang bersorak sorai, seolah sudah juara. Jika pinalti ini masuk, maka pertandingan akan dilanjutkan ke babak perpanjangan waktu. Jika gagal, tim Rena juara.

Semua tegang. Rena gemetar. Dia tidak pernah benar-benar latihan jadi kiper, dia cuma pernah jadi target sasaran tendangan bebas.

Setelah bola diletakkan di titik putih, wasit pun meniup peluit. Dan Rena menutup mata, tidak ada yang bisa dia lakukan selain pasrah. Lantas, sesuatu menghajar wajahnya begitu keras. Seluruh mukanya terasa pedas.

Dengan perasaan seperti melayang-layang, Rena masih bisa mendengar bunyi peluit panjang tiga kali. Kemudian, Rena seperti dilempar-lempar ke udara berkali-kali. "KITA MENANG! KITA MENANG!"

Hanya itu yang Rena ingat, selebihnya menjadi gelap. Ketika Rena terbangun, dia sudah di ruang UKS. Teman-teman satu tim mengelilinginya. "Apa yang terjadi?" Tanya Rena.

"Kamu berhasil menggagalkan pinalti, kamu diam di tempat, dan kebetulan bola ditendang ke tengah. Tepat mengenai mukamu."

"Kita juara, Rena! Sekolah kita juara!" Ujar Deva. Di sebelahnya ada si Anjani. Rena menoleh ke arah lain.

Hari itu, meskipun timnya juara. Tapi Rena nggak terlalu bahagia, karena satu-satunya keinginannya adalah menjadi juara di hati Deva. Tapi dia gagal.

Dan perayaan kemenangan itu pun berlalu begitu saja. Besoknya, Rena menjalani hari seperti biasa. Berusaha tidak memikirkan Deva. Beberapa minggu kemudian, anak-anak kelas 12 sudah menempuh ujian nasional, dan mulai tersebar mencari tempat kuliah. Termasuk Deva. Sebenarnya, Rena berusaha tidak peduli Deva melanjutkan kuliah di mana, sampai dia bertemu dengan Joni, yang lagi legalisir ijazah.

"Ren, gue mau cerita sesuatu." Ujar Joni.

"Apaan?" Tanya Rena lemas.

"Sebenarnya, bunga yang gue taruh di loker lo bukan dari gue, tapi dari Deva." Sahut Joni.

"HA? Yang bener? Kok lo baru bilang sekarang?" Rena terbelalak.

"Karena Deva ngelarang gue." Jawab Joni.

"Bukannya Deva udah jadian sama Anjani?" Tanya Rena lagi.

Joni menggeleng. "Nggak, mereka nggak pernah jadian." Joni melanjutkan. "Waktu itu Anjani memang nembak Deva. Dan Deva jawab ‘mau’ pikir-pikir dulu. Tapi akhirnya ditolak."

Rena yang awalnya lemas, langsung jadi semangat. "Deva kuliah di mana, Jon. Lo tau?" Tanya Rena.

Joni mengangguk. "Dia kuliah di Bali, dia tinggal sama neneknya di sana. Dan dia cinta mati sama lo, Ren." Ujar Joni.

Setelah mendengar penjelasan itu, Rena berusaha menghubungi Deva, tapi selalu gagal. Deva seolah menghilang dari alam semesta. Sampai akhirnya, Rena memutuskan, dia bakal rajin belajar supaya tahun depan bisa lulus ujian nasional, dan menyusul Deva kuliah di Bali.

Mau tau bagaimana kelanjutan kisah Rena? Apakah Rena bisa bertemu lagi dengan Deva? Kisahnya bisa kamu baca di Novel Galaupreneur.


Pemesanan
WA: 0881-273-1411
Line: stiletto_indiebook
Email: orderbuku@stilettobook.com

Kamis, 08 Desember 2016

14 MAWAR UNTUK ANA

Henry menatapku sambil tersenyum. "Apa kamu mau jadi istriku, Ana?" tanyanya.

Aku mengangguk. "Iya, aku mau jadi istrimu, Henry." sahutku sambil ikut tersenyum. Berusaha semanis mungkin.

Kira-kira begitulah potongan dialog di akhir cerita ini. Namun, sayang sekali, ini bukanlah kisah happy ending.

Semuanya berawal dari malam perayaan yang penuh keceriaan dan sukacita, lalu tiba-tiba berubah jadi kekacauan. Bahkan, sebelum satu pun kembang api meledak menghiasi langit malam, sebagian besar penonton berlarian panik tak tentu arah di jalanan, seolah rumah mereka terbakar dan mereka harus segera pulang untuk memadamkannya. Kemudian suara-suara sirine mulai terdengar di kejauhan, semakin lama semakin mendekat.

Aku masih kebingungan dengan perubahan situasi itu ketika, tidak lama, tiga ambulan melintas tepat di sampingku. Melaju kencang bagai sedang balapan, berbelok di tikungan lalu menghilang. Hanya suara sirinenya yang masih terdengar, itu pun pelan-pelan melemah di kejauhan. Sesuatu yang buruk telah terjadi, pikirku. Aku harus mencari Henry, pikirku lagi.

Sebelumnya, aku sedang menunggu laki-laki itu. Karena hari ini hari ulang tahunku, 14 Juli, dan aku sedang menonton perayaan Hari Nasional Perancis atau Hari Bastille, sambil menanti Henry, dia pacarku, eh, mungkin calon suami? Hmm, atau lebih tepatnya, dia adalah pacarku—yang kebetulan minggu lalu, secara tiba-tiba melamarku.

Begitulah.

Namun, sekarang aku benar-benar jadi cemas, dan mulai menyesal tidak langsung menjawab lamarannya.

Ketika itu, di hari Henry melamarku, dia datang ke tempatku bekerja—sebuah kantor penerbitan majalah di Perancis. Di depan rekan-rekan kerjaku, di kafe kantor, dia berlutut, sambil berkata. "Aku cinta kamu, Ana. Apa kamu mau menerima cintaku?" Dia berlutut di bawah sana, sambil menjulurkan sebuah cincin padaku. Cincin emas, dengan berlian besar di atasnya.

Dan aku cuma bisa duduk terperangah. Aku terlalu kaget untuk menjawab. Jangankan memberi jawaban, bersuara pun rasanya tak sanggup. Namun, setelah bisa menguasai diri, aku menjawab. "Beri aku waktu, seminggu lagi, aku akan memberimu jawaban."

Henry tersenyum, agak kecewa, namun dia berusaha tegar. Lalu dia pulang.

Aku sedih melihatnya seperti itu, tapi mau bagaimana lagi. Aku belum bisa menjawabnya langsung. Perlu waktu. Dan selama seminggu menunggu, tentu aku dan Henry tetap bertemu, dan berusaha bersikap sewajar mungkin. Aku menggunakan pertemuan itu untuk bertanya hal-hal yang menurutku perlu aku ketahui.

"Apa yang membuatmu yakin untuk menjadikan aku sebagai istrimu?" tanyaku ketika kami bertemu di sebuah kafe di pinggiran Kota Nice.

"Karena kamu cantik."
Aku memutar bola mata. "Dari banyak kemungkinan jawaban, 'karena kamu cantik' adalah jawaban paling akhir yang aku harapkan." sahutku setengah mengomel.

Henry tersenyum. "Sejujurnya, aku nggak tau. Aku hanya yakin, bahwa kamulah orangnya, Ana." ujarnya. Aku masih terdiam, jadi Henry melanjutkan. "Kita sudah lama saling kenal, aku rasa kita cocok. Kita berdua sudah mandiri, mapan. Kamu editor majalah besar, dan bisnis sepatuku sedang bagus-bagusnya. Dan yang paling penting, aku nyaman denganmu. Dan aku merasa, kamu juga begitu padaku."

Aku tersenyum. Walaupun tidak terlalu memuaskan, tapi aku suka jawaban itu. Dan sebenarnya, jawabanku atas lamaran Henry sudah jelas, dan singkat saja. "Iya." Tentu aku mau jadi istri Henry. Dia laki-laki baik dan seperti yang dia katakan tadi... mapan. Dulu, dia kakak kelasku yang paling ganteng di kampus. Tinggi menjulang dan gagah bukan main, rambutnya hitam, dan matanya hijau cerah dengan tatapan yang tajam. Kami bersahabat sudah hampir sepuluh tahun dan pacaran sejak satu tahun terakhir. Sebelum akhirnya Henry merasa cukup siap untuk melamarku. Dan aku menyuruhnya menunggu selama seminggu, supaya lamaran tersebut bisa kujawab tepat pada hari ulang tahunku, rasanya pasti lebih spesial. Itu saja.

Namun, sekarang aku menyesal.

Kembali ke malam tanggal 14 Juli yang mencekam. Semakin mendekati jalan Promenade des Anglais—yang tadinya akan dijadikan tempat pesta kembang api, suasana semakin mendebarkan. Orang-orang berlarian, terdengar teriakan-teriakan di mana-mana, dan sepertinya aku juga mendengar beberapa kali suara tembakan. Aku takut, namun bertekad harus menemukan dia. Sambil berjalan, aku menyapukan pandanganku ke sekitar, mencari satu wajah yang kukenal. Di mana dia?

Aku terus berjalan, melawan arus orang-orang yang berlarian tak tentu arah. Di salah satu sudut jalan, tiga ambulan sudah berhenti, para petugas tampak mengangkat semacam tandu. Dan aku tercekat. Di atas tandu itu berbaring...

Oh, ya ampun.

Aku menutup mulut saking kagetnya, ada sesosok tubuh yang tergeletak lemah di sana. Sepertinya sudah meninggal. Wajahnya penuh darah, tangannya menggantung pasrah di tepi tandu. Kaget bukan main, aku terdiam lama di sana. Namun, karena didorong keinginan untuk menemukan Henry—keberanian untuk melangkah muncul kembali, pelan-pelan, aku berjalan ke sebelah kiri sehingga tiga ambulan itu tidak lagi menghalangi pandanganku. Dan sepanjang jalan, tampak tubuh-tubuh bergelimpangan. Jalanan aspal itu berubah jadi merah, penuh genangan darah. Ya Tuhan...

Henry...

Aku berjalan melalui tiga ambulan itu, sepintas melihat wajah-wajah mereka yang tergeletak di ambulan dan jalanan. Namun, tidak kutemukan Henry. Aku terus melangkah melalui tubuh-tubuh yang bergelimpangan di jalan.

Di ujung jalan itu, sebuah truk besar terparkir dengan posisi tidak normal. Dan di beberapa badan truk ada lubang-lubang yang mengeluarkan asap. Beberapa polisi tampak mengelilingi truk itu, dan petugas berpakaian putih-putih mengeluarkan sesosok tubuh penuh darah dari belakang kemudi truk. Buru-buru aku berlari meninggalkan tempat itu.

Sebagian tubuh-tubuh yang tergeletak di jalanan sudah diselimuti kain putih, entah siapa yang berinisiatif melakukannya. Di depanku, ada juga seluet orang-orang yang berjalan linglung, menyingkap kain-kain itu. Mungkin sama sepertiku, sedang mencari anggota keluarga, atau sahabat, atau kekasihnya. Oh, Henry...

Aku pun kembali melangkah pelan-pelan, setiap kali orang di depanku membuka kain-kain itu, aku ikut mengintip, merasa ngeri namun berusaha kutahan. Setiap kali kain-kain putih tersebut dibuka, aku berharap itu bukan Henry. Dan sejauh ini, harapanku terkabul.

Tidak jauh dari tempatku berdiri, ketika memandang ke depan, aku menemukan seorang laki-laki berdiri membelakangiku, dia membawa seikat mawar merah. Dan aku jadi teringat, kebiasaan Henry untuk memberiku 14 mawar merah di hari ulang tahunku. Itu pasti dia.

"Henry!" panggilku. Namun, dia tidak mendengar. Tidak apa-apa, yang penting dia selamat, pikirku. "Henry!" panggilku lagi. Kali ini sambil berlari ke arahnya.

Henry menoleh ke belakang, namun tidak ke arahku. Pandangannya tertuju ke bawah. Ke sosok tubuh yang tergeletak di sebelahnya. Lalu riak di wajah Henry berubah seketika. Dia menangis, berlutut dan memeluk tubuh itu.

"Henry? Kenapa?" tanyaku ketika berada di depannya.

Aku menunduk, dan melihat tubuh yang dipeluk Henry. Dan seketika tertegun. Itu aku.

Itu aku, batinku sekali lagi.

Tiba-tiba, bagai kilatan cahaya, aku ingat semuanya. Beberapa menit yang lalu, aku sedang menunggu Henry persis di sini, di tempat ini. Menanti pesta kembang api, aku mengirim pesan singkat kepadanya, bahwa aku sudah ada di tempat kami janjian dan sedang menunggunya, dan jangan lupa mawar-mawarnya. Begitu memasukkan handphone ke kantong celana jeans, sesuatu menghantamku dengan keras dari belakang. Lalu tiba-tiba aku sudah ada di sisi jalan, bingung dengan kekacauan yang terjadi, dan memutuskan mencari Henry.

Dan sekarang, aku sedang menatap laki-laki yang kucintai sedang meraung sambil memeluk... tubuhku... yang berlumuran darah. Merah yang kontras dengan warna kulitku yang putih, rambut pirangku yang sepanjang bahu berantakan menutupi wajah, dari bibir keluar cairan merah, dan mataku yang sedikit terbuka menampakkan bola mataku yang berwarna biru. Kosong, tak menatap ke mana pun.

Aku terperanjat.

Tak sanggup melangkah ke tempat lain, hanya termenung di jalanan itu. Diam di sana. Sampai jalanan sepi, sampai matahari terbit, sampai hari berganti. Dan aku mulai mendengar desas-desus di jalanan, bahwa kejadian di malam menyedihkan itu adalah sebuah serangan teroris. Serangan itu dilakukan oleh seorang laki-laki asal Tunisia, mengendarai truk secara membabibuta, menabrak orang-orang di jalanan.

Malam itu, 84 orang meninggal, termasuk aku.

Setelah dua hari terkatung-katung di jalanan, aku memutuskan untuk pulang. Aku berjalan (hmmm, mungkin lebih tepatnya melayang) menuju rumah, melihat orang-orang sibuk menyiapkan upacara pemakamanku.

Ibuku tidak henti-hentinya menangis. Tentu saja begitu, dia ibuku. Dan aku anak tunggal, hanya aku yang dia miliki, setelah bercerai dari ayah. Sedangkan ayah, tentu juga hadir, tapi terlihat lebih tegar. Dia pria yang baik sebenarnya, cuma agak keras kepala. Semoga kejadian menyedihkan ini bisa membuat mereka bersama lagi, aku sempat berharap.

Ketika itu, aku melihat Henry berdiri di samping peti matiku. Dia mencium keningku, maksudku, kening tubuhku yang terbaring di peti mati. Rupanya tubuhku sudah dirias, tampak cantik seolah aku belum mati dan hanya tertidur.

Lalu kudengar Henry berkata. "Selamat ulang tahun, maaf tahun ini aku mengucapkannya agak telat." Henry memejamkan mata sebentar, kemudian kembali menatapku. "Aku akan merindukanmu, dan masih menunggu jawabanmu."

Henry menatapku sambil tersenyum. "Apa kamu mau jadi istriku, Ana?" tanyanya.

Aku mengangguk. "Iya, aku mau jadi istrimu, Henry." sahutku sambil ikut tersenyum. Berusaha semanis mungkin.

Punggung Henry mulai bergetar, dia menangis, namun cepat-cepat menghapus air matanya. "Aku berharap, sekarang kamu berapa di tempat yang lebih indah. Selamat jalan, Cantik." ujarnya pelan. Dia meletakkan seikat mawar di atas tubuhku. 14 mawar, aku menebak. Sebagai simbol hari kelahiranku, yang sekarang juga adalah hari kematianku.

Aku tersenyum, menatap ke luar, ke arah pintu rumahku yang sudah dipenuhi cahaya putih terang. Dan aku tahu, sudah waktunya untuk pergi.