Minggu, 21 Juni 2020

Covid 19, Konspirasi, dan Layang-layang

Sudah memasuki pertengahan bulan Juni. Virus terkutuk Covid 19, masih menjadi wabah di seluruh dunia. Di Bali, terhitung sampai tanggal 19 Juni kemarin, jumlah kasus positif Covid 19 sudah mencapai 976.

Astaga. Banyak ya.

Nggak heran, sekarang ini, saat ketemu orang, atau telpon-telponan. Kalau denger pertanyaan basa-basi. "Apa kabar? Sehat?". Itu maksudnya bukan basa-basi lagi. Itu maksudnya serius nanya. "Sehat kan? Belum kena Covid kan?"

Huft.

Di tengah pandemi begini. Di tengah serbuan gelapnya berita tentang Corona yang mencekam. Ada setitik cahaya datang dari Kuta. Nama cahaya itu adalah Bli JRX SID. Beliau (setahuku) yang pertama kali berani mencetuskan, bahwa Covid 19 adalah konspirasi elit global. Bahwa ada 1% manusia (ini yang JRX sebut sebagai elit global), yang menguasai berbagai aspek kehidupan masyarakat dunia. Termasuk menguasai WHO. Mereka akan membuat vaksin, agar vaksinnya laku, maka disebarkan informasi palsu secara besar-besaran tentang sebuah virus mematikan bernama Covid 19. Padahal, menurut JRX, Covid 19 tidak seberbahaya itu. Hanya berita di TV saja yang membesar-besarkannya. Makanya, JRX menyarankan, agar sembuh dari Covid 19, anda harus membuang TV anda.

Hmmm.

Ada sebagian dari diriku, pengin percaya bahwa teori konspirasi JRX itu benar. Bahwa semua kekacauan dan kebingungan ini adalah bohong. Melegakan sekali rasanya, jika itu benar. Rasanya seperti kena prank, lalu tinggal menertawakannya. Namun, takut juga untuk percaya 100%. Jika semua ini bohong, kenapa di berita hampir semua pemerintahan di setiap negara di dunia, sempat menutup penerbangannya. Termasuk Indonesia. Dan, semua liga sepak bola dunia sempat terhenti sementara. Lalu belakangan dilanjutkan, tapi tanpa penonton. Kejuaran dunia motoGP juga nggak mulai-mulai. Dan harusnya tahun ini ada Olimpiade 2020 di Tokyo. Namun diundur ke tahun 2021. Apa semua kerepotan itu, hanya karena sebuah kebohongan?

Terlepas dari bohong atau tidak si virus Corona ini. Dan konspirasi atau tidak. Banyak kerepotan yang dialami oleh masyarakat karena virus laknat ini. Misalnya, jika ingin bepergian keluar daerah, menyebrang antar provinsi, harus membawa surat hasil pemeriksaan rapid atau swab tes. Malah sekarang untuk melahirkan di RS, katanya diwajibkan juga untuk tes rapid atau swab, baru akan ditangani. Ini benar-benar merepotkan. Bli JRX juga menaruh perhatian besar untuk ibu-ibu hamil ini. Apalagi, sekarang ketika di rumah saja untuk menghindari positif Corona, banyak istri-istri jadi positif hamil.

Bli JRX menyarankan ke suami-suami, agar tidak usah mengajak istri yang sedang hamil ke RS. Cukup ke bidan saja. Aku sendiri dulu mengajak istriku ke bidan di Ubud untuk melahirkan.

Yah, begitulah.

Ngomong-ngomong. Di Bali, saat ini selain ada musim wabah, juga ada musim layang-layang. Langit Denpasar, tempatku tinggal, penuh dengan layang-layang. Dan hampir 70% didominasi layang-layang celepuk. Sekarang lagi ngetrend celepuk airbrush





Kangen rasanya main layang-layang. Tapi lahan di rumah sudah semakin sempit. Tidak memungkinkan lagi main layang-layang. Untuk mengobati rasa kangen, biasanya aku tinggal menatap langit, mengagumi layang-layang yang mengudara di angkasa. Apalagi, hari gini, banyak layang-layang yang dilengkapi lampu. Di malam hari, layang-layang itu berkelap-kelip, bagai UFO yang mengambang di atas bumi.

Yah, demikian, coretan nggak jelas ini. Sekedar untuk meluapkan isi hati. Kalau ada yang mau menambahkan, silahkan tulis di kolom komentar. Terimakasih. Sampai jumpa.

Rabu, 03 Juni 2020

New Normal Setelah Covid 19

Juni 2020.

Di Bali, ada beberapa perkembangan baru, sejak postingan sebelumnya tentang Corona. Jika di awal bulan Maret lalu, masker medis adalah barang yang sangat langka. Dan demi Tuhan, harganya nggak masuk akal. Sekarang sudah banyak yang menjual masker kain di toko-toko, dan bahkan di pinggir jalan. Tentunya dengan harga yang terjangkau. Mulai dari 5 ribu rupiah.

Selain itu, tempat-tempat cuci tangan dan hand sanitizer juga sudah banyak disediakan di toko-toko, swalayan, dan kantor-kantor pemerintahan. Agar pengunjung, bisa cuci tangan dulu sebelum masuk ruangan.

Hmmm.

Untuk urusan jaga jarak. Walaupun masih susah, tapi mulai dibiasakan. Di ruang tunggu, misalnya. Ada jeda setiap satu atau dua tempat duduk. Ditempeli stiker merah peringatan. Supaya pengunjung tidak duduk di sana, dan memberi jarak sekitar 1 sampai 1,5 meter, dari satu pengunjung ke pengunjung lainnya. 

Setiap sore, pecalang berpatroli, memperingatkan orang-orang yang ada di luar rumah untuk tidak berkerumun, dan jangan lupa pakai masker. Malamnya, sekitar pukul 9, pecalang berpatroli lagi untuk mengingatkan para pelaku usaha, agar menutup usahanya. Begitu terus setiap hari.

Pemerintah Kota Denpasar juga sudah menetapkan PKM (Pembatasan Kegiatan Masyarakat) mulai 15 Mei lalu. Pelaksanaannya berupa pemeriksaan di setiap perbatasan Kota Denpasar. Bagi yang tidak membawa surat tugas (apalagi yang tidak punya tujuan), akan dipersilahkan untuk putar balik. 

Namun, kembali lagi tentang masalah jaga jarak. Ketika pemeriksaan di perbatasan, saking banyaknya motor yang mau diperiksa, malah jaraknya jadi mepet-mepet.

Yah, begitulah kira-kira keadaannya.

Ada banyak kebiasaan baru yang sepertinya akan menjadi, istilah pemerintah pusat, new normal di tengah masyarakat. Jadi, kita harus bisa beradaptasi.

Misalnya, antara lain:

1) Harus bisa mengenali orang, meskipun pakai masker.
Situasi wabah begini, semua orang diwajibkan pakai masker. Sehingga, sering terjadi kalau papasan di jalan, jangankan orang baru kenal, yang udah lama kenal aja bisa nggak saling sapa. Karena mukanya ketutup masker. Makanya, harus berlatih mengenali orang, bukan dari wajahnya. Mungkin bisa dari postur tubuh, rambut, dan matanya.

2) Masker atau hand sanitizer merupakan pemberian yang berharga.
Dulu, seseorang memberi sesuatu pada orang-orang yang dia sayangi, bisa berupa dompet, jam tangan, atau martabak. Sekarang masker dan hand sanitizer sudah termasuk di dalamnya. Tentu saja pemberian berupa martabak atau terang bulan masih enak. Tapi seandainya dagangnya tutup, bisa beralih ke masker atau hand sanitizer. Buat hadiah ulang tahun juga okelah.

3) Cuci tangan terus sampai kesemutan.
Sesuai dengan perkataan Danilla Riyadi. Tangan harus dijaga kebersihannya. Karena tangan selalu menjelajah ke mana-mana. Misalnya: ngucek mata, ngupil, dan bersihin sisa makanan yang nyelip di gigi. Maka, mencuci tangan (dengan sabun) adalah sebuah keharusan.

4) Potong rambut sendiri di rumah.
Kewajiban untuk jaga jarak dan di rumah aja, membuat sebagian orang ogah ke tukang cukur atau salon. Namun, rambut tentu akan tumbuh gondrong tak terkendali. Sehingga harus tetap dipotong, supaya penampilan nggak kayak orang-orang primitif di zaman batu. Boleh minta bantuan orang rumah, atau potong sendiri. Seperti yang dilakukan Ariel Noah di video Youtubenya. Potong rambut sendiri. Yah, kalau Kang Ariel sih memang sudah ganteng dari sononya. Jadi, bagaimana pun cukurannya, tetap saja beliau tamvan.

5) Nongkrong bareng sambil ngopi di Zoom.
Hari-hari belakangan ini, kafe-kafe pada tutup lebih awal, bahkan ada yang hanya menerima pesanan makanan untuk dibawa pulang. Tidak boleh lagi nongkrong-nongkrong. Begitu juga untuk urusan lain, seperti reuni atau rapat-rapat penting. Semua dilakukan secara online. Salah satu aplikasi yang sering dipakai adalah zoom. Namun, jangan sering-sering juga, karena banyak banget ngabisin kuota.

6) Kewajiban tes Rapid atau Swab dengan hasil negatif corona jika hendak bepergian ke daerah lain.
Buat yang mau memasuki Bali, atau keluar Bali. Harus punya hasil tes negatif corona. Masalahnya, tesnya ini mahal banget, bisa sampai jutaan. Jadi, mending diundur dulu kalau mau pergi-pergi. Mending di rumah aja.

Nah, demikian kira-kira perubahan tatanan kehidupan new normal di tengah masyarakat. Buat yang mau menambahkan, silahkan isi di kolom komentar. Tetap jaga kesehatan, dan melaksanakan anjuran pemerintah. Terima kasih. Sampai jumpa lagi.

Minggu, 29 Maret 2020

Hidup Setelah Virus Korona

Awal bulan Maret 2020, hidup masih terasa normal. Lalu virus korona menyerang.

Di tempat tinggalku, di Denpasar, Bali, virus korona sempat terasa jauh sekali. Di negeri antah berantah bernama Wuhan, sampai ada seorang bule yang tumbang di atas motor yang di parkir di trotoar. Banyak yang bilang, bule itu mabuk karena kebanyakan minum tuak. Ada juga yang bilang bule itu mati karena virus korona.

Tapi, orang-orang lebih percaya bahwa si bule tua bangka itu kebanyakan minum tuak. Namun, akhirnya berita resmi dirilis, si bule mati karena korona.

Dari sana, mulai bermunculan berita dari pemerintah, bahwa jumlah positif korona di Bali terus bertambah, sampai tulisan ini dibuat sudah berjumlah 9 kasus positif. 

Virus korona yang tadinya jauh, mulai terasa dekat sekali.

Aku mulai jarang keluar rumah, mulai takut kalau ada orang bersin dengan nikmat di dekatku, mulai cuci tangan lebih sering dari biasanya. Pokoknya bawaannya parno melulu.

Untuk urusan ekonomi juga sangat berpengaruh, orang-orang yang belanja ke rumah jauh berkurang. Dua hari yang lalu cuma satu orang yang belanja. Kemarin juga satu orang. Kalau seperti ini, keadaan rasanya akan terus memburuk. Orang-orang disuruh "di rumah aja", tapi kalau semua orang di rumah saja, lama-lama kebutuhan pokok (makanan) tentu akan habis juga. Sementara kalau keluar, ada virus galak yang menunggu kita di pintu gerbang rumah.

Pemerintah pusat menyatakan tidak lockdown, tapi menghimbau agar "di rumah aja", jaga jarak kalau mau keluar. Tapi tidak semudah itu untuk jaga jarak. Misalnya saat Jakarta membatasi waktu operasional angkutan umum. Orang-orang berjejalan mepet-mepet menunggu angkutan. Sama seperti di Tabanan, pasar umum dibatasi cuma buka selama 3 jam, dan orang-orang berdesakan di pasar yang memang tidak luas itu. Lalu ketika ada pembagian disinfektan gratis, anjuran untuk "jaga jarak" benar-benar tidak mungkin dilakukan, karena ruang yang sempit, sementara manusianya banyak. Jarang pula yang pakai masker. Bagaimana mau pakai masker? Benda itu sekarang mungkin lebih langka dari badak bercula satu.

Semuanya seperti tidak siap dengan keadaan baru ini. 

Aku jadi ingat ketika awal tahun 2020 sempat sakit. Aku nunggu 2 jam di UGD sebuah rumah sakit yang menerima BPJS, tanpa kejelasan apapun, sampai akhirnya pindah ke UGD RS lain, terpaksa tidak pakai BPJS. Sebelum ada virus mematikan bernama korona, rumah sakit kita seperti sudah kewalahan menghadapi pasien, apalagi setelah ada korona.

Beberapa malam ini, aku sering kebangun dini hari, kepikiran bagaimana hidup ke depannya dengan adanya korona ini. Entah apa yang ingin Tuhan ajarkan dengan menciptakan virus semacam ini. Aku nggak tau, dan sepertinya cuma bisa pasrah. Sambil berusaha (kalau bisa) menjaga jarak jika terpaksa keluar rumah, sering cuci tangan, pulangnya langsung mandi, dan berdoa semoga masa-masa suram ini cepat berlalu.

Rabu, 11 Desember 2019

Pembiaran Menyebalkan dan Hukum Karma

Final sepak bola Sea Games 2019 sudah berakhir, Indonesia kalah dari Vietnam. Iya, menang kalah itu biasa. Namun, ada yang mengganjal dari pertandingan itu. Pemain nomor 5 Vietnam, menginjak kaki kiri Evan Dimas sampai cidera. Dan wasit membiarkannya. Seolah tidak ada yang terjadi. Tidak ada kartu sama sekali. Tidak ada teguran atau apapun.

Banyak juga pelanggaran pemain Vietnam ke pemain Indonesia lainnya, yang dibiarkan saja. 

Ada rasa keadilan yang tidak terpenuhi. Rasa sakit yang tidak terobati. Tapi tidak seorang pun bisa memperbaiki, dan menganggap semua itu normal.

Kalau diumpamakan, misalnya ada seorang murid SMP, mengadukan ke gurunya bahwa barangnya dicuri oleh Si A, salah satu murid di kelas yang sama. Kemudian korban menunjukkan rekaman CCTV, memang benar Si A yang mengambil barang itu. Tapi, si guru, yang entah karena alasan sibuk, atau malas (toh dia nggak dapat duit juga kalau mengurusi kasus pencurian murid ini), atau mungkin si guru ingin memberikan kesempatan kedua bagi Si Murid A untuk bertobat. Si Guru nggak melakukan apapun. Dia diam saja. Kasus itu dibiarkan begitu saja. 

Tentu ada rasa sakit di hati murid yang kehilangan barang. Tapi nggak ada yang bisa dia lakukan.

Kembali ke kasus Evan Dimas, kalau di Liga Sepak Bola luar negeri, ada yang namanya fasilitas VAR. Wasit melihat ulang tayangan di video, kemudian dia mengambil keputusan, apakah tetap pada keputusan lama atau mengoreksi keputusannya sendiri. Sedangkan kemarin, di final sepak bola Sea Games, fasilitas VAR itu tidak ada. Jadi, Evan Dimas dan seluruh pendukung Indonesia, bernasib sama seperti si murid yang tadi kecurian barang. Nggak ada yang bisa dilakukan.

Namun, sudah ada hukum alam lain yang tidak bisa dihindari oleh siapapun (sama seperti hukum gravitasi). Namanya Hukum Karma.

Siapa yang berbuat, dia juga yang akan mendapat hasilnya. Dan Si Karma ini sangat, sangat sabar. Dia bisa menunggu sepuluh, bahkan dua puluh tahun, untuk memberikan hasil dari perbuatanmu. Si Karma bahkan bisa menunggumu di kehidupan selanjutnya. 

Mengerikan.

Jadi, kalau sekarang ini, Si A dan Si Pemain Vietnam nomor 5, seolah-olah selamat dari semua perbuatan bejatnya, itu karena memang belum waktunya saja. 

Tetapi... Begitu Si Karma datang. Nggak ada yang bisa dilakukan.

Makanya, usahakan selalu berbuat baik. Terutama terhadap orang-orang terdekatmu.

Kamis, 19 September 2019

Belajar Sesuatu dari Film Gundala


Minggu lalu, entah hari apa aku lupa, akhirnya aku dan istri nonton film Gundala.

Filmnya bagus. Walupun nggak sempurna, tapi yah cukup membanggakan.

Super spoiler alert.

Ada tiga twist besar di film ini. 

Pertama, ternyata penjahatnya bukan Pengkor. Bukan. Penjahatnya adalah Ghani Zulham, anak buahnya Pengkor. Makanya nggak heran si Pengkor matinya cepet banget, tinggal didor aja sama si anggota DPR, Pak Ridwan.

Kedua, nggak ada beras yang terkontaminasi "Serum Amoral". Nggak ada. Justru penawar serum itu, yang diperdebatkan panjang lebar di DPR dan akhirnya disetujui untuk disebarkan, adalah Serum Amoral itu sendiri. Ah, pintar sekali bikin kejutan.

Ketiga, sebenarnya... SEMUA. Iya, sekali lagi.... SEMUA. Semua usaha si penjahat, mulai dari bakar pasar, meracuni beras dengan zat yang katanya Serum Amoral, perdebatan di DPR agar penawar Serum Amoral tidak disetujui tapi malah disetujui. Semuanya. Semuanya hanya untuk satu tujuan. Memancing Sancaka agar menggunakan kekuatan Gundalanya, untuk menghancurkan botol-botol Serum Amoral, yang sudah disetting oleh Ghani Zulham, agar mempunyai frekuensi yang sama dengan es yang mengurung kepala Sujiwo Tejo, alias Ki Wilawuk. Sehingga es itu pecah, dan kepala terkutuk itu bisa disambung lagi dengan badannya. 

Pintar sekali si pembuat skenario membangun jalan cerita yang mengejutkan seperti ini.

Ternyata... Si Sancaka sudah diincar sejak awal. Semuanya hanya settingan. Ghani Zulham memperdaya semua orang. Baik itu si penjahat, Pengkor, dan Gundala, si jagoan.

Begitulah.

Selain twist-twist tadi, ada juga pelajaran yang bisa kita petik dari film Gundala.

Seperti pesan Awang untuk Sancaka. "Jangan campuri urusan orang lain. Maka kamu akan selamat." Awang berpesan begitu karena dia masih terlalu muda, tapi sudah mengalami banyak penderitaan. Dipukuli orang tua asuhnya, dan harus bertahan sendiri di jalanan. Namun, Pak Agung, yang lebih dewasa dan matang juga berpesan pada Sancaka. "Percuma hidup kalau tidak membantu orang lain." Begitu kata Pak Agung, sesaat sebelum dia menyelamatkan seorang copet yang akan dihajar massa. 

Dari dua pesan itu, kalau dipikir-pikir, keduanya ada benarnya. Namun, pengalaman hidup Pak Agung tentu lebih banyak dibanding Awang. Mata Awang belum terbuka, sehingga belum bisa melihat dengan jelas. Sedangkan Pak Agung sudah pernah muda, sudah pernah mengalami masa-masa menyakitkan seperti Awang, namun segera sadar bahwa cara menjalani hidup yang berarti itu bukan hanya untuk menyelamatkan diri sendiri, tapi juga untuk membantu orang lain.

Seharusnya judul film ini bukan "Gundala", tapi "Pak Agung". 

Dan ada satu lagi pesan moral lain yang sangat mendalam dalam film ini. Kalau sedang lapar, nggak peduli sedang semarah apapun kamu, jangan pernah buang-buang makanan. Atau kamu akan terpaksa mengais-ngais makanan itu di jalanan tanah yang kotor.

Dari dua jam tiga menit film Gundala, bagian awal, ketika Sancaka masih kecil, yang menurutku dapat banget emosinya. Selebihnya, waktu Sancaka sudah dewasa, semuanya serba instan. Mulai dari preman-preman yang terlibat konflik dengan pedagang, pertengkaran antar legislator, serum-serum yang disuntikkan ke beras, Sancaka yang menyadari kekuatannya setelah dilempar dari atas gedung oleh preman-preman, Sancaka bikin baju Gundala dari antena TV dan barang-barang bekas yang lain, munculnya anak-anak angkat Si "Bapak" Pengkor yang banyak banget untuk ngeroyok Gundala, yang ketika itu Gundala belum sempat dicharge petir (belum turun hujan) jadi masih lemah.

Lalu Pak Agung bilang. "Kekuatan sebenarnya ada di dalam diri kamu." Kok Pak Agung bisa tau ya? Siapa sebenarnya Pak Agung ini? SIAPA??? SIAPA???

Terus Si Gundala, secara tiba-tiba, menyadari hal itu. Dan mengeluarkan petir dari dalam tubuhnya sendiri, tanpa menunggu petir dari langit.

Lalu di bagian akhir, muncul sesosok cewek cantik yang mirip Pevita Pearce, membantu Gundala membanting mobil yang digunakan untuk mengangkut botol-botol Serum Amoral laknat itu.

Yah, begitulah.

Keinstanan beberapa bagian dalam film Gundala, tentu bisa dimaklumi, karena film Gundala dibuat bukan hanya untuk menceritakan tentang Gundala, tapi juga untuk membangun semesta Bumilangit Cinematic Universe. Gundala bertugas membuka jalan bagi film-film jagoan lainnya di bawah semesta yang sama, bagai anak pertama yang berkorban banyak demi adik-adiknya.

Sekian dulu pembahasan dari saya. Semoga bisa mencerahkan. Jika ada yang mau menambahkan, silahkan tulis di kolom komentar.